Indonesia Sumber Capung Unik, Menarik Bagi Peneliti Dunia

Indonesia menjadi surga bagi peneliti capung dunia. Sejumlah peneliti asal Belanda, Norwegia, Inggris dan Australia meneliti keragaman jenis capung. “Mereka meneliti di Kalimantan, Sulawesi dan Papua,” kata Pengurus Indonesia Dragonfly Society (IDS), Tabitha Makitan, pada Agustus 2013 lalu.
Kalimantan, Sulawesi dan Papua menarik peneliti karena memiliki ragam dan jenis capung yang melimpah. Tak hanya meneliti, mereka juga menerbitkan sejumlah buku identifikasi capung di Indonesia. Hasil penelitiannya juga disiarkan di jurnal ilmiah dunia. Kawasan Indo-Malay menyimpan 60 ragam capung dunia.

“Buku identifikasi capung Papua, Kalimantan dan Sulawesi ditulis peneliti asing,” katanya. Sedangkan, tak ada peneliti Indonesia yang mempublikasikan hasil penelitiannya. Sehingga para pecinta dan pegiat dunia capung kesulitan menemukan referensi ilmiah yang menjadi acuan.

Sampai saat ini hanya dua buku yang membahas tentang capung, yitu “Mengenal Capung” karya Shanti Susanti terbitan LIPI tahun 1998, dan kumpulan esai berjudul “Capung Teman Kita” diterbitkan Pelestarian Pusaka Indonesia 2011. Untuk mengisi kekurangan karya ilmiah capung di Indonesia, IDS menerbitkan buku identifikasi capung berjudul “Naga Terbang Wendit”.

Buku ini merupakan hasil penelitian selama dua tahun di kawasan perairan sumber Wendit Kecamatan, Pakis, Kabupaten Malang. IDS menemukan sebanyak 31 jenis capung, tiga diantaranya merupakan capung endemik Jawa. Buku setebal 164 halaman berwarna dilengkapi foto capung dan dicetak 2 ribu eksempar.

“Peneliti capung dari Inggris, Norwegia dan Belanda akan membantu identifikasi capung di Jawa,” kata Dewan Komite IDS, Magdalena Putri. Para peneliti capung dunia mengapresiasi keseriusan IDS untuk meneliti dan mengidentifikasi capung Jawa. Mereka juga memberikan berbagai referensi untuk memudahkan penelitian.

Dukungan penelitian itu disampaikan peneliti capung dalam kongres capung sedunia (International Congres of Odontology) di Jerman Juni lalu. Sebanyak 30 negara dari seluruh belahan dunia menghadiri kongres tersebut. Dalam kongres, IDS mempresentasikan Capungsambar Putih (zyxomma obtusum).

Capung ini dianggap unik dan langka karena sulit ditemukan. Berbeda dengan jenis capung lain, Capungsambar putih terbang sangat cepat dan jarang hinggap di dedaunan. Bahkan, hanya muncul dua jam saja ketika hari menjelang gelap. Muncul mulai pukul 16.00 WIB-18.00 WIB.

Menang Kompetisi Foto

Komunitas Indonesia Dragonfly Society (IDS) memenangkan kompetisi foto dalam Kongres capung sedunia (International Congres of Odontology) di Jepang awal Agustus lalu. Capung putih yang dinilai unik dan langka memenangkan Indonesia dalam kompetisi foto tersebut.

“Juri menilai capung putih ini sulit didapat karena langka dan unik. Kalau terbang sangat cepat. Sulit mendapatkan foto capung putih,” kata delegasi Indonesia, Tabitha Makitan kepada Tempo, Rabu, 15 Agustus 2012.

Indonesia menyisihkan Venezuela dan Taiwan yang mengirimkan puluhan karya foto capung di negara mereka. Adapun peserta kongres dari 15 negara antara lain Inggris, Jerman, Taiwan, Spanyol, Cina, Amerika, dan Prancis.

Tabitha mengaku mendapatkan capung putih di wilayah Getas, Sleman, Yogyakarta. Bersama komunitas capung dari Malang, pusat IDS berdiri, mereka berburu capung. Capung putih itu mereka peroleh melalui pengamatan yang lama. Menggunakan kamera D-90, capung putih berhasil mereka jepret dengan perjuangan keras.

Bernadeta Putri, anggota IDS yang juga mahasiswi Fakultas MIPA jurusan Biologi, mengatakan capung putih hanya muncul dua jam saja, ketika hari menjelang gelap. “Munculnya hanya pukul 16.00 sampai jam setengah enam sore,” ujarnya.
capung putih
Capung putih ini unik lantaran terbang sangat cepat dan mondar mandir, berbeda dengan capung kebanyakan. Bernadeta menduga capung itu hanya terbang menjelang malam karena kemampuan matanya tak mampu melihat waktu siang.

Referensi mengenai capung putih itu sendiri sulit mereka peroleh. Kalaupun ada satu jurnal yang memuat capung putih, informasinya sangat minim. Karena kemenangan inilah, dia bersama komunitas capung Indonesia berinisiatif melakukan penelitian capung putih. Hasil penelitian capung putih akan dibawa ke kongres capung sedunia pada Juni 2013 di Jerman.

[sumber : tempo.co, foto capung putih : harno-net.blogspot.com]

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Powered by WordPress