Bermula dari melakukan pelatihan wirausaha di Lembaga Permasyarakatan Kerobokan Bali bagi para napi, Ayu Mas Utari terus melatih keterampilannya dalam berkreasi. Ayu sendiri pernah terjun dalam usaha industri pembuatan keben batik yakni sejenis wadah untuk tempat persembahyangan bagi umat Hindu.
Setelah mengikuti pelatihan keterampilan, Ayu mencoba mengembangkan bisnis sendiri yaitu membuat desain batik ke dalam aplikasi kipas tangan. Bahan baku untuk kipas tangan ini memanfaatkan limbah kaleng, limbah oli, limbah kain dan limbah kawat.
“Bisnis ini sudah delapan tahun berjalan, kipas tangan berdesain batik ini mendapat respon positif dari pasar,” ujarnya seperti dilansir merdeka.com, beberapa waktu lalu.
Bermodal awal Rp 50 juta, Utari dapat memperkenalkan produk kipas di dalam negeri. Biasanya, warga asing dalam negeri paling meminati kipas tangan berbahan baku limbah.
“Kipas tangan produksi kami ini memang ramah lingkungan, pelanggan asing lebih suka kipas tangan dari limbah. Mereka (pelanggan lokal atau internasional) biasanya memasangkan kipas tangan berseragam dengan kebaya batik,” jelas dia.
Harga yang ditawarkan Utari terbilang sangat murah, dirinya mematok kipas tangan mulai Rp 10.000 hingga Rp 1.500.000. Untuk cara pemasarannya pun beragam, mulai sistem online, pameran kerajinan tangan di Bali ataupun luar Bali. Penjualan langsung dengan cara menawarkan ke hotel, instansi, bank, butik, penjualan door to door hingga teknik pemasaran pencetakan brosur dan leaflet.
Selain itu dirinya juga menjalin kerja sama dengan pihak lain seperti pameran pagelaran fashion dan wedding organization. Sehingga Utari dapat mengantongi omzet hingga Rp 20 juta per harinya.
“Kalau sedang ramai-ramai pesanan dari perusahaan, lalu pameran-pameran bisa maksimal Rp 20 juta per hari atau 5000 kipas tangan,” kata dia.
Pelanggannya pun juga beraneka ragam, mulai kalangan muda-mudi, orang tua, lansia hingga pejabat-pejabat di Bali. Dengan memperkerjakan 20 orang pegawai termasuk 5 pelukis khusus kipas tangan, Utari bisa memproduksi 500 kipas per harinya.
“Mereka pekerja digaji sesuai UMR berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulannya,” ungkapnya.
Menurutnya, kipas tangan yang dulunya tidak dipandang, kini menjadi pusat perhatian setiap wanita dan souvenir istimewa dalam setiap pernikahan, perhelatan nasional maupun internasional.
“Kipas sekarang kan menjadi benda wajib yang menyelip di setiap tas kaum hawa, selain lipstik, bedak maupun handphone,” jelas dia.
Utari senantiasa menjaga kualitas kipas tangan. Berkali-kali dia mengibaskan, membuka dan menutup kipas tangan berlebel Bee Handicrafts ini dengan gerakan cepat hingga terdengar suara hentakan, namun kipas tersebut tetap dalam kondisi baik.
Dikatakannya, permintaan pasar yang kian membludak membuatnya memerlukan tambahan modal untuk pengembangan usaha. Akhirnya berbekal niat baik, tahun 2007 dia bermitra dengan pihak perbankan dalam bentuk kredit mikro untuk UKM dengan bunga ringan.
“Awalnya memang modal sendiri, tapi dibantu dengan kementerian koperasi dan UKM serta BNI,” jelas dia.
Berbagai penghargaan pernah diraih, diantaranya juara 1 design favorite Endek yang diserahkan oleh Menteri BUMN pada Denpasar Festival 2011, piagam penghargaan koperasi dan usaha kecil menengah melalui pemberdayaan narapidana pada April 2013 dan penghargaan dari kementerian koperasi dan UKM atas partisipasi UKM Fesyen & Aksesoris Expo pada April 2013.
Pesaing bukannya tidak ada namun Utari yakin kreativitas, mutu dan pelayanan yang baik membuat produknya mampu bersaing. “Kuncinya selalu sabar menghadapi klien,” katanya.
Ke depannya, Utari sangat optimis dengan didukung mesin akan menunjang proses produksi yang dapat meningkat. Dia berharap ini bisa memenuhi pasar yang lebih luas baik domestik maupun luar negeri. Sehingga bisa juga menyerap tenaga kerja maksimal dan bisa meningkatkan kesejahteraan serta kualitas hidup dari pengrajin.
“Memang saat ini kami belum ekspor, tapi kami punya klien yang bekerja di Kementerian Luar Negeri lalu membawa produk kipas tangan untuk dijual,” tutup dia.(mc)


