Kereta api dengan teknologi maglev buatan Jepang berhasil memecahkan rekor dunia pada April 2015 yang lalu. Pada sebuah uji coba di dekat Gunung Fuji, kereta apa ini berhasil mencapai kecepatan maksimal 600 kilometer per jam.
Tidak seperti umumnya, kereta api ini menggunakan teknologi maglev (magnetically levitated). Di mana antara badan kereta dengan bantalan rel tidak bersentuhan secara langsung. Melainkan mengambang/mengapung di udara, dengan ketinggian antara 1-10 sentimeter. Seperti apa teknologi maglev tersebut? Berikut kami ulas seperti dilansir dari berbagai sumber.
Teknologi levitasi magnetik membuat badan kereta api ‘terangkat’ setinggi 1-10 sentimeter dari rel, untuk kemudian digerakkan dengan kekuatan magnet yang dihasilkan secara elektrik. Ini berarti bahwa, kereta ini akan mengapung/mengambang di atas relnya. Sehingga tidak menyentuh rel secara langsung.
Teknologi ini menggunakan prinsip-prinsip dasar kemagnetan. Yaitu, bila dua buah magnet yang didekatkan, maka akan terjadi interaksi pada keduanya. Di mana kutub magnet yang berbeda jika didekatkan akan tarik menarik dan kutub magnet yang sejenis akan tolak menolak. Konsep inilah yang merupakan prinsip dasar mengapung dan bergeraknya kereta Maglev.
Magnet yang digunakan pada proses kerja kereta Maglev adalah elektromagnet. Sehingga sifat kemagnetan, polarisasi kemagnetan, dan medan magnet yang dihasilkannya, dapat diatur sesuai dengan keinginan. Ada tiga komponen yang dibutuhkan untuk sistem kereta seperti ini, yaitu:
- Sumber daya listrik yang besar,
- Kumparan logam pada lintasan rel, dan
- Elektromagnet yang cukup kuat pada bagian bawah kereta.
Cara Kerja Kereta Maglev
Jalur (rel kereta) merupakan komponen penting dalam teknologi kereta maglev. Pada sepanjang jalur kereta maglev, dilengkapi dengan logam yang termagnetisasi. Namanya guideway.
Guideway ini berfungsi untuk membuat kereta maglev yang ada diatasnya mengapung. Yaitu dengan memberikan gaya magnet yang cukup besar pada badan kereta, yang sebelumnya telah dilengkapi dengan elektromagnet. Kemampuan apung ini, memungkinkan kereta untuk naik antara 0,39 sampai 3,93 inci (1 sampai 10 cm) di atas guideway tersebut.
Karena kereta maglev mengapung di atas relnya (tidak menyentuh rel), maka tidak ada gaya gesekan antara kereta dengan rel yang dapat menghambat pergerakan kereta. Sehingga kereta maglev dapat bergerak dengan sangat cepat. Yaitu bisa mencapai lebih dari 600 kilometer per jam. Sebagai perbandingan, pesawat Boeing 777 untuk penerbangan jarak jauh, dapat mencapai kecepatan tertinggi sekitar 562 mil/jam atau sekitar 905 km/jam (251,3 m/s).
Kecepatan kereta maglev yang sangat besar ini, juga didukung oleh sistem penggerak yang cukup unik. Jika pada kereta lain memanfaatkan motor listrik atau pambakaran bahan bakar, kereta maglev memanfaatkan medan magnet yang diciptakan oleh kumparan listrik (elektromagnet) di dinding guideway untuk menggerakan kereta.
Ketika kereta mengapung, listrik dipasok ke kumparan pada dinding guideway, untuk menciptakan sebuah sistem medan magnet yang unik. Akibatnya, gaya itu dapat menarik dan mendorong kereta sepanjang guideway.
Polaritas arus listrik yang dialirkan ke kumparan pada dinding guideway terus bergantian. Tujuannya untuk mengubah polaritas kumparan magnet pada guideway. Perubahan polaritas ini diatur sedemikian rupa. Sehingga medan magnet yang dihasilkan kumparan guideway yang terdapat di depan kereta, menarik kereta ke depan. Sementara medan magnet yang dihasilkan kumparan guideway yang terdapat di belakang kereta, mendorong kereta ke depan. Sistem penggerak seperti inilah yang menggerakan kereta maglev.
Sumber : Kevin Bonsor.How Maglev Trains Work.
(http://science.howstuffworks.com/transport/engines-equipment/maglev-train.htm)



