Ketika banyak orang tak berdaya karena penyakit, namun tidak dengan Herri Trisna Frianto. Dosen Politeknik Negeri Medan itu justru bangkit dari penyakit, dengan karyanya yang fenomenal.
Tahun 2008 tepatnya. Saat itu, Herri divonis dokter mengalami gangguan jantung. Gaya hidup dan beban psikis hebat, mengakibatkan fungsi jantungnya menurun. Alhasil, ia nyaris menjalani operasi pemasangan cincin untuk mengembalikan fungsi jantungnya itu. Namun urung dilaksanakan, karena menjalani terapi pembersihan lemak terlebih dahulu.
Rupanya, penyakit itu memberinya inspirasi. Herri yang ketika itu sedang kuliah S2 di Institut Teknologi Surabaya (ITS), sadar betul, betapa mahal biaya bagi penderita kelainan jantung. Sehingga tak menjangkau masyarakat ekonomi lemah.
Ia lantas berfikir, membuat alat medik sederhana bagi penderita jantung. Alat ini nantinya, mampu menggantikan fungsi alat medik lain sejenis, yang lebih mahal. Sehingga biaya pemeriksaan, lebih terjangkau.
Bersama dosennya di ITS, Rachmat Setyawan ST MT, Herri mulai melakukan riset. Tak hanya harus menguasai bidangnya, Herri juga harus paham dunia medis. Terutama yang berhubungan dengan penyakit jantung.
“Saya harus membaca beberapa literatur, untuk mendalami fungsi jantung. Dari teori itu baru bisa kami rancang, spesifikasi alat ini,” ucap dosen teknik elektro dan komputer Politeknik Negeri Medan ini.
Kepada kru Trimedia Pos, Herri menjelaskan secara detail skema kerja alat itu. “Selain denyut jantung, alat ini juga berfungsi mendeteksi saraf otak, dan otot bisep.”
“Melalui elektroda, gelombang denyut dari tubuh akan diubah menjadi sinyal. Selanjutnya sinyal itu ditampilkan pada monitor. Nah, pada layar akan terbaca grafik fungsi organ tubuh itu.”
“Dokter yang membaca sinyal itu akan menentukan, kelainan apa yang diderita pasien. Misalnya penyempitan atau pembengkakan jantung, untuk kemudian diambil tindakan medis,” terang ayah 4 orang anak ini.
Dengan alatnya ini, Herri mengklaim, bahwa biaya pengobatan menjadi lebih murah. “Dengan harga jual yang berkisar 7,5 juta, biaya pengobatan mampu ditekan seminimal mungkin. Bandingkan dengan alat impor sejenis yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah,” ucap Herri.
Pada tahap produksinya Herri mengaku banyak mendapat kesulitan. “Mayoritas komponennya itu tak ada di Medan. Jadi kami harus beli dari Surabaya,” ucap pria kelahiran 7 April 1971 ini.
“Kesulitan berikutnya tidak boleh salah pasang. Kalau salah, harus ngulang dari awal. Sejauh ini sudah 4 kali salah,” ucap Herri yang hobi berkebun ini.
Herri berharap, alat biomedik karya bersama dengan Racmat Setyawan ini, mendapat kemudahan dalam proses legalisasinya. Ini untuk kepentingan masyarakat luas. “Kami berharap, pihak terkait memudahkan proses perizinan, hingga alat ini bisa dipasarkan. Bersama, mari kita dukung kreatifitas anak bangsa,” tutup suami Reniwati Lubis MPd ini. (sap)



