Baru kali ini ada bakat siswa yang dikhawatirkan perkembangannya. Pertumbuhannya dihambat. Pelaksanaannya dicegah. Jangan sampai menyebar dan memengaruhi yang lain. Karena jika tidak, kebiasaan memanjat dan melompati pagar sekolah bisa berdampak buruk, negatif, tanpa ada manfaat sama sekali.
Saya termasuk yang paling sering menyaksikan atraksi ini. Karena bagian luar ruangan kerja saya menjadi jalur lintas mereka (siswa-siswa peminat panjat).
Dalam aksinya, para siswa berjalan mengendap-endap setelah berhasil melompati pagar. Begitu akan melewati workshop, ruangan di mana saya bekerja, mereka berjalan merunduk. Berusaha mengelabui pandangan mata saya. Namun karena jendela ruangan terbuka lebar, saya bisa melihat kehadiran mereka.
Sebisa mungkin saya akan menegur dan memanggil mereka. Bagi yang manut dan patuh, biasanya langsung menghadap. Mendatangi ruangan, mendengarkan ceramah pagi, untuk kemudian menjalani tindakan pendisiplinan. Namun banyak juga yang malah menghindar. Mereka ini yang biasanya mengajak saya adu sprint.
Begitu melengos ketika ditegur, siswa-siswa yang sangat kami sayangi itu mengambil langkah seribu. Mereka berlari dari sisi luar gedung workshop. Sementara saya berlari dari sisi dalam.
Secara teori, saya kalah. Pertama kalah jarak. Jarak tempuh saya lebih jauh, karena harus memutar, melewati beberapa ruangan (termasuk perpustakaan) dan melewati pintu utama workshop.
Kedua, saya kalah stamina. Mereka itu masih sangat segar, muda belia, dan tenaganya masih OK. Sedangkan tenaga saya, sebenarnya masih sangat OK juga. Tapi jujur, tetap saja saya kalah secara head to head.
Seperti yang terjadi pada suatu pagi di minggu yang lalu. Dua orang siswa sekelas sukses memecundangi saya. Begitu kelihatan melintas, saya menegur. Dari jendela saya menghimbau mereka, untuk masuk ke ruangan workshop. Biasanya saya akan memroses. Namun ternyata, mereka memilih lari. Kabur.
Tak mau kehilangan buruan, saya mengejar dari sisi dalam. Menghiraukan beberapa orang guru, petugas perpustakaan, dan siswa lain yang akan masuk ke ruangan belajar. “Macem ngejar maling aja Bapak ini,” ujar suara itu ketika saya berlari.
Ternyata saya kalah cepat. Mereka hilang. Luput dari pandangan tanpa meninggalkan jejak. Saya diam sejenak, untuk merengkuh tiap miligram oksigen. Sambil sesekali menatap ke sekeliling sekolah yang luasnya lebih dari 2,5 hektar itu. Meskipun akhirnya kedua siswa itu berhasil saya dapatkan, tetap saja saya heran dan selalu mencari tahu: “Kenapa sih harus masuk melalui pagar?”
Kebiasaan memanjat dan melompati pagar ini tidak hanya terjadi di sekolah tempat saya mengajar. Pada beberapa sekolah lain juga seperti itu. Banyak. Karena dasarnya ada minat untuk begitu.
Pada masa ketika saya sekolah dulu pun sudah ada minat ilegal ini. Tapi bukan saya pelakunya. Saya hanya menyaksikan. Teman-teman yang tak lagi berminat untuk melanjutkan belajar, memilih untuk pulang lebih cepat. Tapi pulangnya bukan melewati gerbang, karena pasti tak diizinkan. Mereka pulang dengan melompati tembok. Kebetulan waktu itu pagar sekolah tidak begitu tinggi. Tembok beton itu hanya sekitar 1,5 meter.
Karena keseringan menyaksikan minat ilegal itu, saya jadi berpikiran untuk mengakomodir minat mereka. Semacam membuat wadah penampungan bakat dan minat yang berhubungan dengan panjat memanjat itu. Ide ini belum pernah saya lontarkan. Namun sepertinya akan direspon positif. Karena pejabat yang berurusan langsung dengan siswa usianya masih muda. Kurang lebih sama seperti saya. Masih fresh, masih mau menerima masukan-masukan.
Saya akan menyampaikannya ke Pembina OSIS terlebih dahulu. Pak Muslim namanya. Beliau ini sangat terbuka dengan saran yang konstruktif. Jika setuju, baru akan naik ke Waka Bid Kesiswaan, pak Herwadi.
Mudah-mudahan ide ini bisa ditampung, dirembukkan, dan syukur-syukur bisa direalisasikan. Karena minat dan bakat yang ilegal itu, memang harus diakomodir. Prinsipnya, tidak ada siswa yang bermasalah. Mereka hanya belum terarah, dan diarahkan.
