Konsep baru digagas PT Dirgantara Indonesia (PT DI) terhadap pesawat buatannya. Kalau biasanya pesawat dirancang dengan mengandalkan kecanggihan teknologi, pesawat yang tengah digagas itu mengandalkan ketangguhan kekuatan untuk melayani penumpang.
Pesawat baru itu ditargetkan akan melayani rute-rute pendek, misalnya Tanjung Karang-Palembang, Jakarta- Cirebon, dan lainnya, kata Presiden Direktur PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso.
Pesawat yang diberi nama N-245 itu mungkin saja punya target tujuan akhir sama jauhnya dengan pesawat biasa. Namun, ia direncanakan terbang dengan beberapa kali pemberhentian, untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Istilahnya multihop atau spoke to spoke.
Misalnya sebuah pesawat, terbang dari Jakarta tujuan Surabaya. Dalam perjalanannya, pesawat tersebut bisa berhenti di Cirebon dan Semarang untuk naik turun penumpang. “Jadi, seperti KRL,” kata Budi seperti dilansir beberapa media online.
Meskipun saat ini sudah ada pesawat yang melayani jarak tertentu dengan pemberhentian di antaranya, namun rute N-245 bakalan lebih pendek. Maksimal hanya 200 mil laut sekali terbang.
Budi menuturkan, N-245 awalnya bisa dikonsentrasikan ke rute pendek dengan minat penumpang kecil. Namun, pada masa depan, pesawat tersebut bisa dioperasikan lebih luas. Budi percaya, minat warga Indonesia untuk naik pesawat walaupun dengan jarak pendek bakal tumbuh.
Pesawat ini direncanakan memiliki kapasitas angkut 50 penumpang. N-245 diharapkan mampu bersaing dengan pesawat jenis ATR 42 dan Q 300. Mudah-mudahan bisa menggantikan pesawat seperti ATR 72 yang kini dipakai maskapai seperti Garuda Indonesia untuk rute pendek.
N-245 merupakan pengembangan dari CN-235. Sayap pesawat tersebut akan menggunakan sayap yang sebelumnya dikembangkan untuk CN-235. Untuk badan pesawat, dasarnya adalah badan CN-235 yang kemudian dimodifikasi bagian ekornya.
Saat ini, N-245 tengah memasuki tahap perencanaan. Ke depan, akan ada simulasi dan evaluasi secara ekonomi sebelum pengembangannya. Bila memang memungkinkan secara ekonomi, N-245 akan mulai dikembangkan tahun depan.
Budi mengatakan, pengembangan N-245 bakal lebih murah. Bila pengembangan pesawat N-250 sudah menelan biaya hampir 2 miliar dollar AS, pengembangan N-245 hanya akan menelan biaya sekitar 150 juta dollar AS.
Sumber: goodnewsfromindonesia.com



