Pendidikan tinggi kini tak hanya milik orang mampu. Bila memenuhi syarat, pelajar dari masyarakat ekonomi terbatas pun bisa menikmatinya. Sejak digulirkan tahun 2010 silam, pemerintah mampu mewujudkan mimpi sebagian rakyatnya. Melalui program Bidik Misi, ratusan ribu pelajar tanah air mengecap bangku kuliah. Termasuk yang saat ini dilakoni Guntur dan Ridwan.
Keduanya berasal dari keluarga miskin. Guntur misalnya. Sempat berprestasi semasa SMP, Guntur nyaris tak melanjut ke SMA. Alasannya miris, karena tak ada biaya.
Penghasilan ayahnya yang berjualan mainan tak cukup untuk biaya Guntur saat itu. Beruntung, orangtua Guntur cukup berinisiatif waktu itu. Melalui serangkaian tes, Guntur bisa bersekoah gratis, dan terdaftar sebagai siswa di SMA Unggulan CT Foundation.
Bercita-cita sebagai pengusaha bidang perikanan, Guntur berhasil masuk di kampus favoritnya, Universitas Sumatera Utara USU).
Cita-cita itu pula yang menggiringnya duduk di program studi Manajemen Sumber Daya Perairan. Mahasiswa semester 3 ini berpendapat, luasnya wilayah perairan Indonesia harus serius dikelola.
“Potensi wilayah perairan kita begitu besar, namun belum dikelola secara maksimal,” ucap mahasiswa kelahiran 31 Januari 1996 itu. Guntur bertekad, memberi yang terbaik bagi orangtua dengan mengembangkan potensi dirinya.
Lain halnya dengan Ridwan. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat ini merupakan harapan keluarga. Seluruh saudaranya hanya tamat SMP. Maklum, ayahnya yang seorang nelayan tak punya cukup biaya.
Sama seperti Guntur. Sebelum menjadi peserta Bidik Misi, Ridwan juga alumnus SMA Unggulan CT Foundation. Bedanya, Ridwan sudah bersekolah disana sejak SMP.
Ridwan yang mengidolakan sosok Ir.Sukarno ini ingin bergelut di politik. Jalan kearah sana pun diretas. Tercatat, Ridwan aktif dalam
organisasi kemahasiswaan.
Ridwan sadar, saat ini ia beruntung bisa menjadi peserta Bidik Misi. “Senang rasanya bisa mendapat bantuan pendidikan tinggi dari pemerintah. Saya yakin, masih banyak anak bangsa lain yang lebih layak, yang ingin melanjutkan sekolah, namun belum terjangkau. Mudah-mudahan program ini bisa inikmati seluruh akyat yang tak ampu,” ucap mahasiswa semester 3 kelahiran 10 Desember 1995 ini.
Ada atau tidak program ini, jangan pernah takut bercita- cita. Gantungkan harapanmu setinggi- tingginya. Bila ada kemauan dan kemampuan, mudah- mudahan ada jalan. (sap)



