Ini pengakuan mencengangkan seorang siswa sekolah menengah tingkat atas: “Saya biasanya 20 jam di warnet, nonstop.”
Pengakuan polos yang membelalakkan mata. Betapa sudah merasuknya efek internet di kalangan pelajar. Lantas, muncul segudang pertanyaan di balik pengakuan itu. Termasuk yang paling vital dengan si siswa: masa depan pendidikannya. Pasti terlintas pikiran seperti ini : “Dengan 20 jam di warnet, bagaimana dengan sekolahnya?”
Dan ternyata, jawabannya sudah bisa ditebak. “Saya terpaksa harus bolos sekolah, karena tak ada lagi ongkos. Sementara uang mingguan sudah habis untuk bayar warnet,” ungkap si siswa. Tampaknya internet terus menyebarkan bahaya latennya.
Terutama bagi penopang masa depan bangsa, yakni siswa itu sendiri. Kejadian ini membuktikan bahwa pendidikan tak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Apalagi guru sebagai ujung tombaknya. Melainkan tanggung jawab semua, terutama orangtua siswa di rumah.
Apalagi ketika dengan mudah si siswa mengelabui kedua orang tuanya. “Saya selalu berangkat ke sekolah pagi. Tapi nggak pernah sampai di sekolah, melainkan warnet,” ujar si siswa tadi.
Internet itu ibarat pisau bermata dua. Akan sangat bermanfaat di tangan orang yang benar. Sebaliknya, internet dapat merugikan diri sendiri, juga orang lain bila berada di tangan orang yang salah.
Lantas apa yang dicari si siswa itu tadi, sehingga ia betah, tak makan minum, juga tak pulang kerumah. “Saya kecanduan main game online,” ujarnya polos.
“Di internet itu, ada banyak pilihan main game online, misalnya dragon dan point blank. Kalau sudah main (game) itu, rasanya nggak mau berhenti,” kata si siswa mengaku.
Cegah Bahaya Laten Internet
Dengan 82 juta orang pengguna internet di Indonesia, menyebabkan bahaya laten itu menjadi sangat nyata. Apalagi mengingat 80% lebih pengaksesnya berada pada usia sekolah: 15-19 tahun (kemenkominfo.go.id).
Jika tidak ditangkal, bahaya laten itu tersebar melalui internet. Selain pengakuan tersebut di atas, tercatat ada berbagai potensi kelemahan lain dari internet. “Indonesia berada di posisi ke-3 pengakses situs porno,” kata Guru Besar Kriminolog UI, Adrianus Meliala seperti dilansir tekno.kompas.com.
Peringkat yang cenderung meningkat itu makin diperparah dengan banyaknya jumlah pengakses usia pemula. Meski kini sudah banyak situs porno yang diblokir, tetap saja ini masih menyisakan kekhawatiran.
Dampak Buruk Bagi Pengaksesnya
Internet ternyata bisa menimbulkan dampak buruk bagi pengaksesnya. Tercatat ada beberapa akibat buruk penggunaan internet berlebihan bagi anak usia sekolah:
- Perilaku sosial menyimpang
Cenderung kurang bahkan tak mau bergaul dengan teman sebayanya. Pelajar cenderung mengurung diri dan asik menikmati dunia maya tanpa menghiraukan apa yang telah terjadi di sekitarnya.
- Prestasi sekolah menurun
Pelajar yang kecanduan internet secara berlebihan akan mengganggu aktifitas belajarnya. Sehingga berpengaruh terhadap prestasinya.
- Suka berbohong
Berbohong dilakukan untuk menutupi kesalahannya. Beberapa pelajar berbohong untuk masuk ke warung internet (warnet).
- Membolos sekolah
Orangtua tak tahu jika anaknya membolos sekolah karena pamit dari rumah seperti biasa. Tetapi ternyata di dalam tas sudah ada pakaian ganti. Orangtua baru menyadari setelah ada panggilan dari sekolah.
- Pornoaksi dan pornografi
Terutama yang terjadi melalui situs pertemanan facebook. Korban biasanya perempuan usia sekolah. Dengan mudahnya pelaku menculik, mencabuli, dan bahkan memperkosa korbannya. Ini menjadi catatan untuk dapat dihindari.
- Kesehatan mata terganggu
Dampak negatif yang berkaitan dengan kesehatan adalah mata. Karena seringnya menggunakan internet, baik lewat ponsel, PC, maupun laptop maka mata dipaksa berakomodasi. Jika ini dilakukan dalam jangka waktu yang lama maka mata mengalami penglihatan minus. (sap)



