Demi Kesembuhan Anak, Polisi Ini Rela Jualan Bakso

brigadir wawan2Menjadi aparat negara tak menjamin kehidupan serba cukup. Brigadir Wawan Mulyana sudah satu tahun menjalani dua profesi : Anggota Sabhara Polsek Tarogong, Garut dan tukang bakso. Profesi tukang bakso digeluti lantaran penghasilan sebagai polisi tak cukup menutupi biaya berobat anaknya, Rema Akelia.

Putri semata wayangnya itu divonis kelenjar tiroid yang tak berfungsi baik sejak usianya masih tiga tahun. Rema terpaksa harus bolak-balik berobat dengan biaya tak sedikit.

“Untuk biaya satu bulan berobat saja bisa menghabiskan Rp 3 juta, maka habis uang saya,” kata Wawan kepada Merdeka.com.

Bila penyakitnya tidak diobat, makan akan mengganggu pertumbuhan syaraf si bocah. Sehingga ketergantungan obat masih harus terus dilakukan. “Kita bingung berobat ke sana-sini semuanya mahal, belum lagi untuk biaya hidup,” jelasnya.

Wawan sudah satu tahun membantu istrinya jualan bakso. “Mau gimana lagi saya jualan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” imbuhnya. “Dulu sempat dibawa ke Rumah Sakit Polri tapi karena alatnya belum canggih jadi memang harus diobati. Juga obatnya memang mahal,” jelasnya.

Jaminan kesehatan dari pemerintah yang digulirkan lewat BPJS menurut dia, tidaklah seperti yang diharapkan. “BPJS itu buat yang ringan saja, batuk dan flu. Kalau seperti anak saya katanya enggak bisa di-back up,” terangnya.

Di rumahnya, Wawan mengaku membuka ragam makanan seperti bakso, sate hingga nasi goreng. Jika dinas tidak memakan waktu sampai larut malam, Wawan berjualan bakso di sekitar pemancingan dekat rumahnya.

“Saya jualan di sekitar pemancingan. Karena pemancingan itu memang punya adik saya, di situ suka ramai,” jelasnya. (Ism, Sumber: Merdeka.com)

Tak Mau Merepotkan Atasan

brigadir wawanPutri tunggalnya, Frahnazkhan Rema Axelia, sudah delapan tahun mengidap penyakit kelenjar tiroid. Sekali pengobatan sang putri yang berusia 12 tahun itu, Brigadir Wawan harus merogoh kocek sekitar Rp 3 juta. Habislah uang gaji sebagai penegak hukum.

“Saya nggak mau ngerepotin orang lain lain, apalagi instansi dan atasan,” kata Brigadir Wawan dalam perbincangan dengan Dream.co.id, Rabu 27 Agustus 2014.

Sang putri terdeteksi sakit sejak umur tiga tahun. Kini sudah duduk di kursi kelas 4 Sekolah Dasar. Sekitar 8-9 tahun menjalani pengobatan, atasan Wawan tidak ada yang mengetahui kondisinya di rumah.

Tapi sekitar dua bulan lalu, kondisi Wawan diketahui atasan. Bermula saat Wawan pulang kerja. Ketika sampai di rumah, sang istri, Rani Suryani, meminta bantuan untuk melayani pembeli bakso dan nasi goreng. Wawan masih dalam kondisi berseragam langsung bergegas membantu istri yang sedang meladeni pembeli.

“Di situ, tiba-tiba ada yang motret, ngambil gambar. Sejak itu gambar beredar sampai atasan saya tahu,” ungkap Wawan sedikit malu. Kondisi penyakit sang anak yang membuat Brigadir kelahiran Garut, 12 oktober 1978 ini mencari sambilan halal.

Rema, begitu sang putri disapa, mulanya menjalani perawatan di RS Polri Sartika Asih Bandung. Tapi karena keterbatasan obat dan peralatan medis, Rema akhirnya dirujuk ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. “Di RSHS, di situ habis gaji saya pak. Pemeriksaan organ anak, dan lain-lain harus dilewatin. Yah mau bagaimana lagi pak,” sedih Wawan.

Kini sang putri harus mengkonsumsi obat setiap hari. Pengobatan terkadang berlangsung setiap bulan atau tiga bulan sekali. Bila obat yang diminum salah dosis, maka harus mengulang dari dosis awal. Harapan dia tak muluk-muluk. Melalui usaha dan doa yang ada semoga anaknya bisa sembuh. “Mohon doanya saja agar usaha saya lancar dan anak saya bisa sehat lagi,” ungkapnya. (dream.co.id)

 

 

Add Comment