Belajar Agama Islam di Sekolah Menuntun Siswi Ini Menjadi Mualaf

akhwat_jilbabMeski terlahir dari orangtua Muslim, Aisyah Kamiliya (31 tahun), dibesarkan dalam lingkungan Katolik. Liya, begitu ia kerap disapa, adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Perpisahan ibu dan ayahnya membuat Liya diasuh kakek dan nenek yang menganut Katolik.

Secara akademik, Liya mengaku sedang-sedang saja. Karena sering mengkobinasikan catatan dengan gambar semasa sekolah, dari sanalah teman-teman mulai mengenalnya. Ia tak pernah mempertanyakan agamanya sampai saat ia duduk di bangku SMA.

Lulus dari SD dan SMP Katolik, Liya melanjutkan ke sebuah SMA negeri di Jakarta. Pada pelajaran agama Islam (PAI) saat ia kelas I SMA, siswa non Muslim boleh memisahkan diri ke perpustakaan sekolah. Tapi Liya memilih tetap berada di kelas.

”Saya penasaran, belajar apa sih PAI,” ungkap Liya.

Ia menceritakan saat itu guru agama kelasnya, Mustafa, mengatakan ada agama samawi dan agama ardhi. Ia bertanya-tanya saat Pak Mustafa mengatakan kitab umat Nasrani adalah injil. Padahal, yang ia tahu dan pelajari kitab umat Nasrani adalah alkitab dan injil adalah bagian dari alkitab.

Liya coba bertanya, tapi Pak Mustafa mempersilakannya untuk berdiskusi di luar jam pelajaran. Di luar kelas, Liya menyampaikan apa yang ia rasa perlu ‘diluruskan’.

”Pak Mustafa tidak mendebat. Beliau justru mengatakan ‘Bapak jadi belajar juga’. Setelah itu saya belajar banyak juga dari Pak Mustafa,” kata ibu dari tiga anak ini.

Wali kelasnya saat kelas II yang juga guru PAI, Bu Tini, juga tidak marah saat Liya membantah apa yang dinilainya berbeda. Kedua guru itu memberi penjelasan atas yang Liya pertanyakan. ”Semakin orang paham Islam, justru semakin sabar dan tidak pelit ilmu. Bu Tini dan Pak Mustafa saling back up,” kata dia.

Liya juga bertanya kepada guru agama Katolik yang mengajarnya di sekolah. Ia bertanya tentang apa yang selama ini dilalui dan dipelajari, termasuk soal alkitab bukan injil dan nabi Isa. Ia diberi jawaban, apa yang sudah digariskan Tuhan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Jika percaya, maka percaya, itulah iman.

”Mereka bilang kalau saya bertanya-tanya, berarti tidak beriman. Di situ hati saya mulai bergolak. Beda nih imannya dengan orang Islam. Orang Islam mewajarkan bertanya agar belajar lagi. Sebab bertanya pun belum tentu tidak percaya,” tutur Liya. Ia merasa tak tenang setelah itu.

Kelas III SMA pada 2000, Liya pulang ke kampung halaman ibunya di Pulau Sikep, Kepulauan Riau saat Ramadhan. Ia coba ikut berpuasa. Liya mengaku nyaman dan tenang di tengah suasana Ramadhan yang khusyu.

”Saya merasa ada yang berbeda. Saya belajar tenang dan sabar, padahal semasa SMP, saya mudah marah dan berkelahi,” kata Liya.

Liya memutuskan bersyahadat Islam di sana. Berislam di kampung halaman orang tua tidak serta merta membuat keislaman Liya diterima. Orangtuanya menilai Liya tidak berterima kasih kepada kakek nenek yang selama ini membersarkannya. Keislaman Liya dikhawatikan akan membuat neneknya kecewa.

***

Setelah memutuskan untuk menjadi mualaf di kampung halamannya, Liya kembali ke sekolah. Kedua guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang selama ini sabar meladeni pertanyaan-pertanyaannya juga menangis saat tahu Liya sudah menjadi Muslim.

Mereka mengaku tak menyangka diskusi selama tiga tahun itu membawa Liya pada Islam. Setelah tahu Liya masuk Islam, kakeknya sudah meninggal. Tapi semasa hidup, kakek Liya sering menonton ceramah subuh Zainudin MZ. Saat itu Liya sempat bertanya mengapa menonton acara umat Islam?

“Kakek saya bilang, ‘Dia (Zainudin MZ) orang baik. Apa yang disampaikan juga berisi kebaikan’,’’ kata Liya.

Neneknya sempat mendiamkannya setelah masuk Islam hingga Liya akan masuk kuliah. Sampai suatu ketika neneknya memberikan sebuah kantung berisi baju lengan panjang, kerudung dan benda-benda lain. ‘’Kami berpelukan. Nenek bilang, ‘Belajar Islam yang baik ya’,” ungkap Liya.

Setelah masuk Islam, Liya langsung berjilbab. Sejak belajar di sekolah Katolik, Liya diajarkan menggunakan rok yang relatif panjang di bawah lutut dan berkaus kaki panjang pula. Sehingg ia tidak kesulitan dengan saat harus berkemeja lengan panjang dan kerudung.

Liya juga belajar membaca Alquran. Lima bulan, ia sudah lancar membaca Alquran. Guru mengajinya juga mengajarkan banyak hal, termasuk tata cara pakaian Muslimah yang benar. Ia merasa beruntung karena lagi-lagi dipertemukan dengan orang baik dan sabar. Sehingga saat diberi tahu berjilbab yang benar adalah menutup dada, tidak transparan dan tidak menggunakan celana panjang, ia bisa menerima.

Meski sempat menolak ajakan mengikuti kajian Islam di masjid dekat rumah kakek-neneknya di Komplek Timah, Depok, Liya akhirnya bersedia datang. Kajian-kajian itu membuat Liya semakin melihat pergaulan di masjid yang holistik. Ia lalu aktif di kegiatan remaja masjid dan menikmati semua kegiatan di sana setiap harinya.

Setelah menikah, guru bahasa Inggris di sebuah sekolah di Depok ini sempat terlilit utang puluhan juta Rupiah. ‘’Mulai muncul pertanyaan. Saya merasa sudah baik dalam segala hal, tapi mengapa masih diberi kesempitan? Saya kesal dan marah,” kata Liya.

Ia membandingkan keadaan orang lain yang sering mabuk tapi usahanya sukses. Sementara dirinya yang bekerja mendidik anak orang lain hanya mendapat ala kadarnya. Liya sempat jatuh sakit karena itu. Suaminya mengingatkan, sikap seperti itu berarti menyalahkan Allah SWT.

‘’Suami saya mengatakan orang lain bisa saja bekerja mengejar uang tapi apa saya mencari yang sama? Saya merasa tertampar. Niatan awal saya mengajar untuk belajar. Dari situ saya berpikir Allah SWT pasti punya maksud dari ini semua,” kata Liya. Setelah itu, dengan diiringi berbagai upaya, utangnya berhasil dilunasi.

<sumber : republika.co.id>>

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Be the First to Comment!