Jan Koum Sang Pendiri WhatsApp

pendiri whats upHiruk pikuk media mengabarkan Facebook akan mengakuisisi WhatsApp, Kamis, 20 Februari 2014. Nilainya mencengangkan dan menembus rekor akuisisi perusahaan teknologi selama ini. Total jumlahnya mencapai US$ 19 miliar. Jika ditukar ke dalam rupiah hari ini, akuisisi tersebut setara Rp 223 triliun.

Akuisisi ini bahkan jauh melebihi akuisisi yang pernah dilakukan Google (US$ 12,5 miliar saat mengakuisisi Motorola Mobility) dan Microsoft (US$ 8,5 miliar saat mengakuisisi Skype). Jan Koum dan Bryan Acton, duo pendiri WhatsApp, mendapat porsi terbesar atas penjualan ini. Koum, menurut Forbes, memiliki saham 45 persen, sementara Acton 20 persen. Sisanya dimiliki karyawan lain dan para pemodal yang sempat menanamkan modal di perusahaan ini.

Akuisisi ini membuat Koum memiliki kekayaan di atas kertas senilai US$ 6,8 miliar. Ia kaya mendadak. Dengan pembelian ini, US$ 1,9 miliar akan diterima Koum sebagai uang cash. Sisanya diterima dalam bentuk kepemilikan saham. Kekayaan ini berbalik jauh dari masa kecilnya yang merana.

Tukang sapu jadi milyarder

Koum lahir di sebuah desa di Kiev, Ukraina pada 24 Februari 1976. Koum anak tunggal dari pasangan ibu rumah tangga dan seorang manajer kosntruksi. Hidup di bawah rezim otoriter, membuat mereka tak betah. Saat umur 16 tahun, bersama ibunya dia hijrah ke Amerika Serikat. Mereka tinggal di sebuah apartemen sempit bantuan pemerintah di Mountain View.

Untuk memenuhi kebutuhan, ibunya bekerja menjadi baby sitter. Sedangkan Koum membantu menyapu di toko kelontong. Malang ibunya didiagnosis kanker. Akhirnya mereka sepenuhnya hidup bergantung pada tunjangan sosial.

Saat SMA, walau suka bikin ulah,Koum suka belajar mandiri. Lewat buku bekas yang dia beli, dia belajar komputer jaringan. Koum bergabung dengan grup hacker dan sempat chating dengan pendiri Napster, Sean Fanning. Lepas SMA, Koum masuk ke San Jose University dengan pekerjaan sambilan sebagai pengetes keamanan di Ernst & Young.

Pada 1997, Koum ketemu dengan Brian Acton, pegawai Yahoo ke 44. Mereka cocok. Enam bulan kemudian, Koum mendaftar kerja di Yahoo dan diterima sebagai Infrastructure Engineer. Padahal saat itu Koum masih kuliah. Baru dua pekan kerja di Yahoo, Koum lalu memutuskan berhenti kuliah. Tiga tahun kemudian, ibunya meninggal dan Koum sebatang kara.

Lamar ke Facebook, Jan Koum Ditolak

Jan-Koum1Acton menjadi teman karib dan menampung Koum. Mereka bekerja di Yahoo hingga 2007. Mereka pergi jalan-jalan ke Amerika Selatan selama setahun. Saat Facebook naik daun, mereka sempat mendaftar jadi pegawai. Hasilnya ditolak. “Kami adalah bagian dari Facebook Reject Club,” ujar Acton.

Pada 2009, mereka mendirikan WhatsApp. Saat itu platform BlackBerry Mesengger lagi ngetop. Namun, hanya terbatas pada sesama pengguna perangkat Blackberry. Di sisi lain, iPhone dan ekosistem masih bayi. “Aku beli iPhone dan menyadari bahwa industri aplikasi adalah industri baru,” kata dia.

Dalam bayangan Koum, WhatsApp lintas perangkat, lintas OS, dan lintas negara. Mereka mengratiskan layanan ini pada tahun pertama. Selanjutnya, mereka memungut fee US$ 1 per tahun. Layanan ini tanpa diselingi iklan. Sebab, iklan jadi momok bagi Koum. Saat pecahnya investasi dotcom pada awal 2000-an, Acton rugi jutaan dolar karena berinvestasi di sektor periklanan. “Bekerja dengan iklan membuat depresi,” ujar Koum. “Anda tak akan membuat kehidupan lebih baik dengan membuat periklanan yang baik”.

Aplikasi ini belum ada bentuknya. Koum akhirnya membuat code yang memungkinkan aplikasi ini bisa nomer telepon semua negara di dunia. Awalnya, aplikasi ini sering crash. “Saya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memperbaharui ratusan kode telepon di semua daerah,” ujarnya.

Kisah Jan Koum Mendongkrak WhatsApp

Pengguna awal WhatsApp adalah komunitas Rusia yang dekat dengan Koum. Dari merekalah ide macam-macam status muncul. Di antaranya “Can’t Talk WhatsApp Only”, dan “I’m at the Gym”. Saat aplikasi versi 2.0 dirilis, jumlah penggunanya naik menjadi seperempat juta orang.

Koum lalu memperlihatkan hasil kerja ini kepada karibnya. Saat melihat fitur ini, Acton menyadari bahwa WhatsApp bisa lebih efektif daripada pesan MMS, yang saat itu masih ngetren. Oktober 2009, mereka mendapat pendanaan US$ 250 ribu dari sesama mantan pegawai Yahoo. Mereka lalu mengembangkan WhatsApp agar bisa dipakai di BlackBerry, Nokia, dan Android.

Pamor WhatsApp naik tinggi. Pada awal 2011, WhatsApp adalah aplikasi yang paling banyak diunduh di Amerika. Namun Koum tak tinggi hati. Dia tetap sederhana. Saat ditanya salah satu stafnya kenapa dia tak mengumumkan prestasi ini kepada pers? “Ini hanya akan membuatmu lupa untuk fokus pada produk,” ujarnya.

Mereka juga tak ‘ngebet’ untuk mendapat kucuran dana dari pemodal Ventura. Bahkan, Jim Goetz, pemodal Ventura beken dari Sequoia Capital, butuh delapan bulan agar bisa terlibat dalam pendanaan WhatsApp senilai US$ 8 juta.

Februari 2013, mereka baru membuka pendanaan untuk mengembangkan usaha. Saat itu pegawai WhatsApp ada 50 orang yang melayani 200 juta pengguna. Seqouia Capital menanamkan duit US$ 50 juta. Pendanaan ini menggenjot nilai WhatsApp jadi US$ 1,5 miliar.

Nilai WhatsApp terus membengkak seiring makin banyak penggunanya. Hingga akhirnya Facebook sepakat membeli WhatsApp senilai total US$ 1,9 miliar. Dengan pembelian ini, Koum menjadi konglomerat bersama triliuner Facebook lainnya: Eduardo Saverin, Sheryl Sandberg, dan Dustin Moskovitz.

Alasan Mark Zuckerberg Memilih WhatsApp

Fackbook Acquires WhatsApp For $16 BillionFaceboook mengumumkan mengakuisisi WhatsApp dengan mengeluarkan biaya US$ 19 miliar. Sebagai seorang pendiri Facebook, Mark Zuckerberg mengaku langkahnya ini adalah keinginannya untuk menghubungkan orang-orang di seluruh dunia.

“Misi kami adalah ingin membuat dunia lebih terbuka dan tersambung. Kami melakukan ini agar semua orang bisa membagi konten apa pun dengan orang lain tanpa batas. WhatsApp akan membantu kami mengembangkan layanan itu dan saya harap semua orang di dunia akan menyukainya,” kata Mark, seperti dilansir situs The Telegraph.

Mark mengaku memilih WhatsApp karena aplikasi chatting itu sangat sederhana, cepat, dan dapat dipercaya. Ia juga menilai aplikasi yang sudah memiliki 450 juta pengguna ini sudah menjadi kebutuhan harian banyak orang untuk berkomunikasi secara global.

“Dalam waktu beberapa tahun ke depan, kami akan membantu WhatsApp agar terus tumbuh dan menghubungkan pengguna di seluruh dunia,” kata Mark.

Selain itu, Mark mengaku sudah akrab dengan Jan Koum, pendiri WhatsApp, sejak lama. Mark menjelaskan ia dan Jan memiliki visi yang sama. Ia juga menilai Jan dan timnya memiliki cara kerja yang luar biasa, sehingga aplikasi buatannya bisa menyatukan banyak orang.

“Saya sangat senang Jan setuju bergabung dengan kami untuk sama-sama membangun WhatsApp dan Facebook menjadi lebih besar,” kata Mark.

Jan Koum Mengenang Ibunya

beberapa waktu yang lalu, Jan Koum melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu, saat umur 17 tahun, setiap pagi antre untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antre. Mengenang saat-saat sulit, dimana bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang.. Pelan2, air matanya meleleh. Ia tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan nilai setinggi itu.

Ia lalu mengenang ibunya yg sudah meninggal karena kanker. Ibunya yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. “Tak ada uang, Nak…”. Jan Koum tercenung. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya.

“Rezeki datang dari arah dan bentuk yang tidak terduga. Remaja miskin yg dulu dapat jatah makan itu kini jadi Triliuner”

(sumber : tempo.co dan beberapa sumber lain)

Add Comment