Jenny Heryani, Pengabdian Penuh Pengorbanan

Jenny HeryaniEksistensi penyandang disabilitas seolah tenggelam oleh hiruk-pikuknya hidup. Mereka yang berpotensi belum berkesempatan menunjukkan prestasi. Namun oleh sebuah pengabdian, bakat-bakat kecil menyala dan menjelma menjadi kesetaraan.

Medan diselimuti mendung siang itu. Membuat sejuk udara yang biasanya panas. Disalah satu sudut kota, disebuah rumah sederhana, sejuk itu juga kental terasa. Bukan karena hembusan hawa kipas, namun karena buah tulus percikan pengorbanan. Dirumah itulah tinggal seorang pejuang kesetaraan penyandang disabilitas, Jenny Heryani.

Jenny yang lahir pada 1952 ini merupakan sosok luar biasa. Guru yang bersuamikan Drs. Sama’un ini sesungguhnya terlahir normal. Namun ‘kejadian’ tragis yang dialami ketika berumur 5 tahun merenggut penglihatannya, hingga menjadi seorang tunanetra pada 1974.

Getir hidup yang dijalani, tak membuat Jenny pasrah diri. Keterbatasan membuatnya semakin termotivasi, hingga mampu menyelesaikan pendidikan sarjana.

Pada Desember 1982, Dra. Jenny Heryani menjadi seorang abdi negara. Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri tipe E menjadi tempat mengabdi. Disini, Jenny menumpahkan segala bentuk pengabdian kepada putra-putri bangsa penyandang disabilitas. Jenny paham, disabilitas bukan kemauan. Namun juga bukan halangan meraih impian.

jenny2Sebagai penyandang disabilitas, tak jua menyurutkan langkah Jenny untuk berprestasi. Jenny diantaranya pernah meraih predikat sebagai: Juara I Karya tulis se-Asia Pasifik tahun 2010, peraih Kartini Award dari BUMN tahun 2013, dan peraih penghargaan Guru Berdedikasi Tinggi dari Yayasan Hj. Ani Idrus tahun 2011.

Selama 30 tahun mengabdi, tidak membuat Ibu 2 orang putra bernama Okta Perdana Putra dan Gita Jayadi Putra ini berpuas diri. Beliau sadar, bahwa penyandang disabilitas perlu terus bimbingan menuju kesetaraan. Jenny, terus bejuang bahkan saat masa purnabakti. Tercatat, beliau kini aktif menjabat sebagai Ketua HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) Sumatera Utara dan sebagai Kepala Biro Pendidikan Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia).

HWDI dan Pertuni merupakan organisasi sosial yang ditujukan untuk memberdayakan peran penyandang disabilitas. Salah satu kegiatan yang dilakukan misalnya berupa pendidikan dan pelatihan. Hingga jangan heran bila suatu saat melihat penyandang tunanetra bisa membaca cepat, membaca Al-quran, belajar dengan laptop, dan sebagainya.

jenny-sosialisasiNamun sayangnya, niat mulia Jenny untuk berjuang masih terkendala. Sebagai organisasi sosial, HWDI praktis mengandalkan uluran tangan sebagai sumber biaya. Bahkan selama 3 tahun terakhir, HWDI tidak menerima bantuan dana dari Pemerintah, dan secara swadaya berjuang menggalang dana.

Meski berat, namun itu bukan halangan. Jenny dan tim tetap bersemangat. Bersatu demi kesetaraan. Karena sesungguhnya pengabdian itu harus butuh pengorbanan. (sap)

Add Comment