Disabilitas Namun Berkualitas

disabilitas berkualitasLangsung terpancar rasa iba, belaskasih, serta simpati mendalam begitu melihat kaum ini, penyandang disabilitas. Dengan keterbatasan yang dimiliki, penyandang disabilitas sering kali terabaikan. Akibatnya, ‘penolakan’ terjadi sebagai bentuk lain diskriminasi.

Padahal, hambatan itu menghilangkan kesempatan penyandang disabilitas untuk ‘eksis’ dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan sebagainya. Hambatan itu pula yang akhirnya menenggelamkan, dan menyeret penyandang disabilitas ini kedalam kemiskinan.

Penyandang disabilitas ditujukan bagi mereka yang mengalami cacat, baik fisik maupun mental. Mereka itu diantaranya tunanetra yang tidak dapat melihat, tunarungu yang tidak dapat mendengar, tunawicara yang tidak dapat berbicara, tuna daksa yang mengalami cacat tubuh, tunalaras yang sukar mengendalikan emosi, tunagrahita yang mengalami lemah daya tangkap, serta tunaganda yang mengalami cacat fisik dan mental.

Hak-hak Penyandang Disabilitas Kesetaraan telah dimulai PBB ketika mencanangkan tahun Internasional bagi penyandang disabilitas. Dengan itu, badan dunia tersebut ingin mewujudkan partisipasi penyandang disabilitas dalam masyarakat untuk mendapatkan kesetaraan hidup.

Gaung penyetaraan itu pula yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui penerbitan UU RI No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Yang beberapa tahun kemudian oleh DPR disetujui secara aklamasi merevisi RUU tentang Pengesahan Konvensi hak – hak Penyandang Disabilitas menjadi Undang- undang. Dengan kesetaraan itu, penyandang disabilitas diakui hak- haknya, antara lain bebas dari perlakuan yang tidak manusiawi dan mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang layak.

Penyandang disabilitas yang dulu terpinggirkan, kini menjadi subjek dalam pembangunan. Pengakuan yang membuat penyandang disabilitas harus ikut berperan. Salah satunya meningkatkan kualitas diri melalui ilmu dan pelatihan.

Tak perlu heran, jika suatu saat kita menyaksikan penyandang disabilitas berkarya. Mereka bisa menjahit dan belajar Bahasa Inggris. Atau bahkan mengoperasikan komputer, serta membaca al-qur’an. Hal yang dulunya mimpi namun berubah jadi nyata.

Kini, penyandang disabilitas bukan lagi warga negara kelas dua. Mereka berkelas karena memiliki kualitas. Mereka mampu, asal kita mau membantu. Dan mereka juga bisa mandiri, asal kita berniat untuk membuatnya berdikari. (sap)

1. Dian Inggrawati

dian-inggrawatiDian adalah perempuan tunarungu berumur 27 tahun yang pernah meraih juara ketiga di ajang Miss Deaf World 2011 dan Miss Deaf Europe 2011 di Praham Ceko. Dian juga punya lebih dari 100 piala hasil prestasinya di berbagai kejuaran seperti, peragaan busana, gambar dan memasak.

 

2. Stephanie Handojo

stephanie-handojoSejak lahir Stephanie mengalami down syndrome. Walau begitu Stephanie memiliki prestasi yang luar biasa. Stephanie mewakili Indonesia di ajang Special Olympic World Summer Games XIII Athena di Yunani tahun 2011 dan berhasil meraih medali emas di cabang renang nomer 50 meter gaya dada. Karena prestasinya itu, Stephanie dipilih untuk membawa obor Olimpiade London di kota Robin Hood, Notingham. Ia juga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia karena bisa main piano dan memainkan 22 lagu dalam waktu 2 jam.

3. Sugeng Siswoyudono

sugeng siswoyudonoKalau suka nonton Metro TV, pasti nggak asing ada iklan seseorang yang memakai kaki palsu dan kini dia justru membantu sahabat-sahabatnya yang mengalami hal serupa dengan membuatkan kaki palsu untuk mereka. Dia adalah Mas Sugeng. Pria asal Mojokerto ini memang luar biasa, meski mengalami keterbatasan, ia justru berhasil menolong ribuan orang yang kehilangan kakinya. Bahkan kaki produksi mas Sugeng ini kabarnya dilirik oleh negara-negara lain.

 

 

 

4. Christian Sitompul

christian sitompulKalau liat nama belakangnya dan mukanya, pasti kita tahu ayahnya si Tian. Yup, Christian merupakan anak dari Ruhut Sitompul. Walau mengalami down syndrome tapi prestasinya juga sudah mendunia. Sama seperti Stephanie, Tian juga mendapatkan medali emas pada cabang renang gaya bebas 50 m di Olimpiade tuna grahita di Yunani.

5. Angkie Yudistia

angkie yudistiaWanita lulusan S2 Komunikasi STIKOM the London School of Public Relations Jakarta ini harus menerima dirinya tidak bisa mendengar ketika usianya remaja. Namun Angkie tidak menyerah begitu saja. Ia merupakan seorang CEO dari Thisable Enterprise, konsultan untuk permasalahan teman-teman difabel di Indonesia.

6. Handry Satriago

HandryMenjalani aktivitas dari kursi roda bukan halangan untuk pak Handry menunjukkan prestasinya hingga ke level dunia. Jabatan mentereng sebagai CEO di General Electric Indonesia adalah bukti nyata kalau beliau memang layak dijadikan teladan.

Add Comment