Mahasiswa Singapura Bangga KKN di Indonesia

Mahasiswa singapura di IndonesiaKuliah kerja nyata (KKN) menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengabdikan ilmu mereka secara nyata di masyarakat. Selain itu, KKN juga membantu mahasiswa yang berasal dari kota besar untuk merasakan kehidupan masyarakat desa yang jauh berbeda dari tempat asal mereka.

Seperti yang dirasakan oleh mahasiswa Singapore Polytechnic, Kevin Prasetyo. Peserta “Learning Express KKN International” bersama mahasiswa lain dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Pembangunan Negeri Veteran (UPN-Veteran) itu merasa bangga bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang ada dialami Desa Timbul Harjo.

“Keadaan masyarakat yang seperti ini harus kita dukung. Karena mereka tidak sempat untuk mecari cara yang dapat meningkatkan produktivitas. Kegiatan selama dua minggu ini dapat menjadi wacana kami saat kami kembali ke Singapura untuk membuat alat yang serupa dan lebih baik untuk mendukung masyarakat di desa,” urai Kevin, seperti dilansir dari situs UMY, Jumat (19/9/2014).

Pendapat serupa turut disampaikan mahasiswa Singapore Polytechnic University lainnya, yaitu Kenneth. Dia mengaku sangat bangga bisa mendapat kesempatan untuk menyelami kehidupan pedesaan yang jauh berbeda dari kehidupan modern di Negeri Singa itu.

“Ini merupakan pengalaman pertama saya yang cukup berharga, karena ini pertama saya main kesini. Saya juga melihat cara hidup masyarakat masih jauh dari kondisi masyarakat kota, misalnya seperti di Singapura. Saya juga bangga sekali bisa ikut membantu dalam membuat alat untuk mereka,” tutur Kenneth.

Sementara itu, Sekretaris Desa Timbul Harjo Agus Hartono mengapresiasi kontribusi para mahasiswa peserta KKN Internasional dalam bentuk dua alat tersebut. Temuan itu, lanjutnya, adalah bukti nyata pemikiran dan aksi mahasiswa dalam membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomian desa.

“Hal ini juga akan berdampak bagi peningkatan perkonomian desa dan juga merupakan kesempatan yang baik sekali karena dari program ini ada mahasiswa dari Singapura. Dari kampus politeknik yang dasar ilmunya adalah teknik, sehingga mereka mampu ikut membantu untuk meciptakan alat seperti ini, kita patut berterimakasih sekali,” tutup Agus.(okz)

Add Comment