Soft Skill Yang Mengungguli Hard Skill

softskill_hardskillRAHASIA besar salah satu raksasa otomotif di Indonesia akhirnya diungkap. Pada satu kesempatan, mereka membeberkan kiat khusus, tentang kriteria calon karyawan yang bagaimana, yang bisa bergabung bersama mereka.

Ternyata syaratnya tak cukup sulit. Namun,tak juga cukup mudah. Hanya ada 2 kategori penilaian. Diluar pengujian calon kesehatan fisik calon karyawan itu sendiri.

Yang pertama aspek soft skill. Bagi yang iseng, istilah ini bisa diplesetkan menjadi sop sikil (sop kaki-bahasa jawa). Namun yang jelas, caku- pannya meliputi kemampuan yang ada pada diri sendiri. Bentuknya berupa keahlian non teknis. Persisnya yang berhubungan dengan cara ber- interaksi sosial, berkomunikasi, bertutur bahasa, tentang kebiasaan, keramahan, dan optimasi.

Bentuk mudah soft skill pada seseorang misalnya: dapat mengendalikan emosi, bisa me- nerima nasehat orang lain, mampu mema- najemeni waktu, selalu berfikir optimis, mampu berinteraksi dengan orang lain, bisa bekerja sama dengan kelompok lain, dan banyak lagi.

Sementara yang kedua: hard skill. Kemampuan ini berupa bentuk nyata dari hasil pembelajaran. Misalnya: keterampilan mem- bubut, mengelas, ekonomi, komputerisasi, dan banyak lagi. Intinya kompetensi khusus yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Hard skill bisa ditingkatkan melalui pelatihan, pendidikan, pendalaman ilmu keprofesian, dan sebagainya.Dari dua aspek ini, perusahaan itu ternyata lebih mengedepankan penilaian soft skill. Loh? Bukannya kompetensi dan keterampilan pada tiap individu menjàdi modal dasar? Iya benar. Namun bukan itu yang utama. Inilah rahasia besar itu.

“Kami bisa mengajarkan merakit mobil secara mudah, termasuk mengelas dan fabrikasi lainnya,” ujar seorang Division Head HRD perusahaan itu.

“Namun kami tak bisa mengajarkan pembentukan karakter seseorang dengan mudah,” katanya lebih lanjut. Pengutamaan penilaian soft skill menjadi karakteristik baru pola perekrutan karyawan pada saat ini.

Beberapa perusahaan menganggap, hard skill tanpa soft skill yang mumpuni, tak menjamin etos kerja yang baik bagi perusahaan itu. Hard skill dapat dengan mudah diseleksi melalui lamaran, nilai indeks prestasi, pengalaman kerja sebelumnya, dan penilaian akademik lain. Sementara soft skill, biasanya diukur melalui psikotes.

Head HRD itu mengungkapkan, contoh gampang penerapan skill ini. Pada satu kasus, karyawan yang hard skill nya lebih tinggi dibanding soft skill nya, ditegur oleh atasan.

Namun karena merasa jago, ia tak terima. Sehingga ngambek dan ogah-ogahan bekerja. Karyawan yang lebih tinggi nilai soft skill nya, akan mencerna dengan baik teguran atasannya itu. Untuk kemudian, secara bersama mencari solusi. Kinerja pun tak terganggu. Produktivitas kerja juga tercapai. Ujungnya, perusahaan dan karyawan, sama-sama diuntungkan.

Hingga tak heran, bila suatu saat nanti, orang yang ‘biasa’ saja prestasinya, namun soft skill nya bagus, bisa bekerja di perusahaan besar. Dan jangan pula heran nanti, jika ada seorang yang begitu amat jago keterampilannya, namun tak cukup baik soft skill-nya, gagal bergabung. Karena mulai kini, soft skill mengungguli hard skill. Selamat melatih soft skill anda.

Suryaman Amipriono

Redaktur Pelaksana

Add Comment