Kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Baru-baru ini, siswa disalah satu Taman Kanak-kanak (TK) terkenal di Jakarta menjadi korbannya. Ibu korban menuturkan, M, yang berumur 5 tahun tidak hanya mengalami kekerasan secara fisik, namun juga psikis. Korban menjadi sangat berubah. Selalu ngigau dan berkata “don’t, stop. Go away”.
Awalnya, ibu korban sempat curiga melihat kejanggalan pada anak laki- lakinya. Kecurigaan itu antara lain melihat sang anak menjadi penakut, suka mengigau dan berteriak ketika tidur. Sang ibu pun melihat luka memar pada perut anaknya.
Setelah dibujuk, akhirnya M mau bercerita kepada ibunya pada 20 Maret lalu. M mengaku dicabuli oleh orang yang diduga sebagai petugas cleaning service. Atas pengakuan anaknya tersebut, akhirnya ibu korban melaporkan kasus ini ke pihak berwajib.
Kini, M, mengalami penderitaan psikis dan trauma yang hebat. Korban takut pipis, baik di toilet rumah atau sekolah. Yang lebih mengkhawatirkan, terdapat bakteri disekitar anus korban. Pengacara keluarga menduga, butuh waktu 2 tahun untuk mengobati trauma korban.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami M merupakan contoh dari begitu banyak kasus yang menimpa anak-anak. Masih ingat rasanya, di tahun 2010 lalu, ramai diberitakan tentang kasus terhadap anak. Korban tidak hanya disodomi,namun juga dibunuh dan dimutilasi.
Kejahatan terhadap anak harus diantisipasi sejak dini. Kasus-kasus itu erat kaitannya dengan kecenderungan Paedofilia. Guru dan orangtua sangat berperan disini. Melakukan komunikasi, untuk menghindari kejahatan yang sama terulang kembali.
Awas, Pelaku Paedofilia di Sekitar Anda
Mendeteksi keberadaan pelaku kejahatan paedofilia tidak mudah. Tidak ada ciri-ciri fisik tertentu yang dapat mengidentifikasi mereka. Paedofilia didefinisikan sebagai individu yang memiliki ketertarikan (terutama minat seksual) terhadap anak-anak prapuber yang berusia 13 tahun atau lebih muda. Istilah ini pertama kali dibunyikan pada tahun 1886 oleh psikiater asal Wina, Richard Von Kraft Ebing dalam tulisannya Pshycopathia Sexualis.
Menurut Darmayati Utoyo Lubis, PhD, pakar psikologi klinis Universitas Indonesia, seorang paedofil umumnya datang dari keluarga berpendidikan rendah. Mereka terkadang hidup menyendiri, meskipun tidak tertutup kemungkinan tetap berinteraksi dengan orang lain. Ciri lain : tidak memiliki ketertarikan pada orang dewasa atau lawan jenis. Mereka juga tidak menikah karena tidak memiliki ketertarikan seksual dengan lawan jenis yang seusia.
Seorang Paedofilia biasanya dekat dan memiliki interaksi yang mendalam dengan anak-anak. Meskipun ini bukan pertanda khusus. Paedofil biasanya akan sangat ramah dan sayang dengan anak-anak.
Mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan anak-anak di bawah usia 12 tahun.
Pahami Cara Seorang Paedofil Mendekati Korban
Seorang paedofil mendekati anak- anak yang terlihat menarik baginya. Misalnya yang tampan, periang, dan penurut. Ia akan berusaha menunjukkan perhatian dan kepedulian.
Umumnya pelaku akan mendekati anak dengan cara mengobrol, memberikan uang jajan, mengajak ke tempat bermain, hingga memberikan barang-barang. Setelah merasa dekat, anak-anak tentu akan menuruti apa saja yang diminta, yang kemudian dimanfaatkannya untuk mendekati anak secara fisik.
Itulah sebabnya pada beberapa kasus, pelaku paedofil diketahui memelihara atau mengangkat banyak anak, atau istilahnya menjadi orangtua asuh.
Namun kasus berbeda dialami ‘M’. Kepada ibunda, M, menuturkan jika dirinya diintimidasi dan diancam jika tidak mau menuruti kemauan pelaku. Lembam pada perut seperti yang diutarakan ibunda M menjadi buktinya.
Berkaca pada kasus yang baru terjadi, jangan biasakan anak-anak terlalu dekat dengan orang dewasa, terlebih yang baru dikenal. Jika masih berada pada lingkungan sekolah, minta pengawasan ekstra pada pendidik, terutama ketika akan ke toilet.
Pengawasan yang ekstra, akan mempersempit ruang gerak pelaku Paedofil untuk mendekati korban. Dengan itu, kekerasan (seksual) yang selama ini terjadi pada anak-anak, tidak lagi terjadi.
Berikut ini sejumlah kasus kekerasan seksual di sejumlah sekolah yang kami himpun dari berbagai sumber:
Februari 2013
Seorang siswi SMA Negeri 22 Jakarta Timur melapor telah dicabuli wakil kepala sekolah bernama Taufan. Pengadilan menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp 60 juta kepada Taufan.
September 2013
ES, guru Sekolah Dasar Tanjungtani 3, Kecamatan Prambon, dilaporkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Nganjuk oleh orang tua murid atas dugaan melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak mereka di sekolah. Menurut laporan, pelaku yang merupakan guru olahraga ini telah menyodomi sedikitnya delapan siswa laki-lakinya. Perbuatan ini dilakukan di ruangan sekolah dan rumah pelaku.
Oktober 2013
Orang tua siswa SMP Negeri 4 Jakarta Pusat melaporkan bahwa anaknya menjadi korban pelecehan seksual oleh sejumlah teman sekolah. Adegan pelecehan itu direkam dengan telepon seluler dan beredar di kalangan siswa. Kasus ini diselesaikan secara tertutup oleh dinas pendidikan dan orang tua siswa terkait.
Oktober 2013
Seorang siswi kelas VI sekolah dasar mengaku telah dilecehkan gurunya. Bocah itu ketakutan dan tidak berani berangkat ke sekolah karena diancam si guru. Kasus ini ditutup karena polisi tidak menemukan bukti-bukti.
April 2014
Seorang murid laki-laki TK internasional di Jakarta diduga menjadi korban sodomi dan tindak kekerasan oleh sejumlah pegawai kebersihan sekolah itu. Ibunda korban mengatakan, putranya itu pertama kali diketahui menunjukkan keanehan pada pertengahan Maret lalu.
(sap)






Putra
Peran orang tua yang pro aktif sangat diharapkan utk mencegah kejahatan pedofil.