Untuk menggiatkan produksi mobil listrik, pemerintah memanggil putra terbaik yang selama ini berkiprah di dalam dan luar negeri. Mereka merupakan ahli dalam seluk beluk mobil listrik. Lantas mereka diberikan kebebasan untuk mewujudkan karya terbaik. Tim yang terdiri atas kaum muda penuh talenta ini dianugerahi dengan bakat segudang. Mereka tergabung dalam tim Putra Petir. Ricky Elson merupakan salah seorang diantaranya.
Ricky Elson, pemuda kelahiran Sumatera Barat pada 11 Juni 1980 ini merupakan seorang teknokrat cerdas. Pada beberapa kesempatan beliau sering disebut sebagai pemimpin proyek mobil listrik (Selo). Kepercayaan ini bukannya tanpa alasan, Ricky merupakan sosok yang jenius, yang bahkan sudah terlihat semenjak mengenyam bangku sekolah.
Setelah lulus dari SMA Negeri 5 Padang, Ricky sempat melanjutkan kuliahnya di Universitas Andalas. Hingga suatu saat, dia melamar beasiswa ke Jepang, dan diterima. Nyaris 14 tahun dihabiskannya untuk sekolah dan berkarir di negeri Sakura itu.
Selama di Jepang, Ricky menjabat sebagai Kepala Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan generator NIDEC Coorporation, yang berpusat di Kyoto. Selama itu, ia berhasil melakukan riset terhadap 14 teori tentang motor listrik, dimana kini penemuannya tersebut telah dipatenkan oleh pemerintah Jepang.
Kreator Selo
Rupanya bakat emas dan kecemerlangan Ricky terendus pemerintah. Demi mewujudkan mimpi untuk memproduksi mobil listrik, Ricky dipanggil ‘paksa’ Kementerian BUMN. Tidak gampang memang. Mengingat Ricky memperoleh penghasilan yang cukup besar selama di Jepang. Namun, demi kepentingan yang lebih luas, untuk kemajuan pengembangan teknologi di Indonesia, Ricky pun siap memegang penuh kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia curahkan seluruh kemampuan dan bakatnya demi kesuksesan proyek ini.
Belajar dari kecelakaan yang dialami Tucuxi, edisi pertama mobil listrik sport, tidak membuat Ricky kapok. Bahkan terus bertekad untuk melanjutkan proyek mobil listrik nasional ini. Setelah dianalisa, kecelakaan itu terjadi karena Tucuxi tidak dilengkapi gearbox. Tucuxi hanya mengandalkan rem untuk menahan
|
|
lajunya yang memang laju.
Untuk itu, mobil Sport listrik selanjutnya dirancang dengan menggunakan gearbox. Bersama bengkel Kupu-kupu malam Jogja, Selo mulai dikreasikan. Kendaraan listrik yang sekilas mirip supercar Eropa ini, membutuhkan waktu 8 bulan, 2 bulan sketsa dan 6 bulan produksi. Dana yang dikucurkan senilai Rp 1,5 miliar yang terbagi Rp 400 juta untuk baterai, Rp 300 juta untuk motor listrik dan sisanya untuk bodi dan kaki-kaki. Kini, Selo yang mampu meluncur hingga kecepatan 200 km/jam itu, sedang menunggu izin sertifikasi kelaikan jalan dari Kemenristek.
Kembangkan Pembangkit Listrik Terbarukan
Disaat menunggu Selo mulai ‘mengaspal’, Ricky melanjutkan cita-cita bangsa lain di bidang energi terbarukan. Ricky bersama sejumlah mahasiswa membuat produk listrik terapan.
Dalam kesehariannya, Ricky aktif melakukan penelitian. Mulai pembangkit listrik hidro, tenaga angin, bahkan becak listrik. Ricky berkeyakinan, teknologi ini akan bermanfaat dalam 10-20 tahun mendatang.
Kini, penelitian yang dilakukan Ricky mulai membuahkan hasil. Bahkan, kincir angin hasil rancangannya menjadi yang terbaik di dunia untuk kelas 500 watt peak.
Ricky Elson cukup menginspirasi, khususnya generasi muda. Ricky ikhlas meninggalkan Jepang dengan segala falisitas dan penghasilan tinggi yang didapat. Ricky lebih memilih hidup sederhana di Ciheras, desa kecil dengan kehidupan ala kadarnya.
Ricky bahkan rela berjauhan sementara dengan istri tercinta demi mewujudkan cita-cita bangsa, membuat pembangkit listrik murah dan ramah lingkungan untuk Indonesia. Semua itu demi kemajuan bangsa. Semua itu demi kebangkitan teknologi kita. (sap)




