Indonesia seolah tak pernah kehabisan bakat emasnya. Bahkan untuk bidang yang gemerlap sekalipun. Siapa sangka? Dibalik melesatnya mobil balap F1, terdapat karya emas anak bangsa yang mengikutinya.
Adalah seorang alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2004, Stephanus Widjanarko. Tephie, biasa disapa, bekerja sebagai engineer yang mendesain mobil balap F1 di Italia.
Bersama tim Scuderia Torro Roso, yang merupakan junior dari Red Bull Racing, Tephie berperan sebagai Computational Fluid Dynamics (CFD) aerodynamicist pada CFD khususnya di bagian external aero development.
“Saya bertugas untuk merancang bagian depan berdasarkan sisi aeronya. Atau secara lebih detailnya pada bagian front wing, nose, forward barge board, suspension layout, tyre shield,” kata Tephie, seperti dikutip dari laman ITB, Senin (21/7/2014).
Menurut Tephie, terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan dalam proses pembuatan kerangka mobil balap F1. Pertama, mereka membuat ide terlebih dahulu yang kemudian direalisasikan dalam bentuk 3D surfaces.
Setelah itu model dimasukkan dalam CFD, kemudian dilakukan pengujian terakhir dengan menggunakan wind tunnel. Setelah pengujian wind tunnel menunjukkan hasil yang baik, model kemudian dikirimkan ke bagian Design Office untuk direalisasikan dalam skala full body,” paparnya.
Dia menyebut, proses penyusunan ide hingga pengujian melalui wind tunnel memakan waktu sekira 2-3 minggu. Meski demikian, Tephie mengaku jika setiap hari merupakan deadline untuk tugas tertentu.
“Inilah yang membedakan kerja di F1 dengan perusahaan lainnya. Ritme kerja di F1 itu padat karena timeline nya pendek-pendek, sehingga hampir setiap hari ada deadline,” jelas Tephie.
Sejak awal bergabung pada F1 pada April 2013, Tephie terlibat dalam fase terakhir pengembangan mobil TR8. Pada 2014, dia terlibat dalam hampir seluruh fase development mobil TR9. “Sekarang saya sudah mulai menggarap proyek pembuatan mobil untuk tahun depan,” ungkapnya. (okezone)



