Kejeniusan anak-anak bangsa akan diuji oleh dunia internasional. Ketika ditantang untuk membuat kapal perang canggih negara lain. Tak ayal, ini akan menjadi tantangan besar dalam sejarah Indonesia.
Salah satu negara tetangga memang sedang menunggu pesanan kapal perangnya. Kapal itu bernama Strategic Sealift Vessel (SSV). Saat ini, kapal perang tersebut sedang dikebut pengerjaannya, tentunya dengan standar dan kualitas kontrol internasional.
“Alhamdulillah, pengerjaan kapal perang SSV pertama untuk Filipina sudah 80 persen. Tantangan terberat kami sebebenarnya pada ketepatan waktu kirim ke Filipina. Terus terang kami betul-betul perhatikan khusus mengenai delivery time ini,” kata Project Manager SSV Philippine, Turitan Indaryo, seperti dilansir tribunnews.
Doktor kapal lulusan Jepang ini bersyukur karena timnya memiliki semangat yang sama. Membuktikan martabat bangsa di mata internasional. Semuanya bekerja keras tak kenal lelah demi nama bangsa. Karena untuk kali pertama, Indonesia mampu membuat kapal perang dan dieskpor.
Untuk menepati delivery time sesuai kesepakatan, tim yang beranggotakan sekitar 400 orang dikerahkan secara khusus. Mereka bekerja lembur, siang dan malam. Bahkan dirinya bersama sejumlah anggotanya tak mudik demi mewujudkan impian membuat kapal perang yang diakui internasional itu.
“Kapal perang itu bukan kapal barang atau niaga yang dimuati senjata dan pesawat. Tapi ada sistem navigasi dan sistem persenjataan yang dikendalikan dengan komputer. Inilah tantangan yang sesungguhya. Memadukan sistem berjalan baik,” tambah Turitan.
Setidaknya ada 40 blok yang harus dikerjakan dalam setiap tim. Sementara kapal dibagi sampai 111 blok. Mulai pengerjaan landing pesawat, cargo, engine room, ruang kemudi, hanggar, dan zona lainnya. Semua dikerjakan paralel.
“Saat ini sudah sampai pada pemasangan equipment pada badan kapal. Peralatan dan mesin-mesin canggih itu didatangkan dari Jerman dan Korea. Saat-saat seperti itulah dibutuhkan konsentrasi ekstra untuk memastikan sistem pertahanna, pesenjataan, dan navigasi. Semua itu harus berjalan sesuai sistem,” kata Turitan.
Saat ini sebenarnya sudah sampai pada persiapan launching. Sebab, konstruksi sudah hampir selesai. Tinggal peralatan di dalam kapal yang akan menjadi tantangan pokok.
“Kami terus mendorong semangat tim. Sekecil apa pun tahapan dilalui, tumpengan kecil-kecilan,” kata Turitan.
Semua peralatan bisa terintegrasi dengan sistem. Mesin jangkar, mesin kemudi, elektronika, kontrol, navigasi komunikasi, termasuk bila saat berlayar ada objek sasaran bisa terdeteksi. “Tapi kami yakin, dengan bekerja sungguh-sungguh, kita memiliki keunggulan di dunia internasional,” kata Turitan yang sebelumnya sukses membuat kapal rudal.
Kapal perang yang dibuat khusus untuk Filipina itu sebenarnya merupakan pengembangan dari kepal sejenis yang pernah diproduksi PT PAL. Yakni kapal Landing Platform Dock 125 meter. (KRI Banda Aceh 593 dan KRI Banjarmasin 592).
Kapal canggih sepanjang 123 meter tersebut memiliki spesifikasi khusus yang mampu membawa dua helikopter dengan diawaki 121 crew. Kapal perang ini mampu mengangkut 500 pasukan.
Beberapa keunggulan kapal perang ini misalnya, memiliki kapasitas angkut hingga mampu membawa bobot mencapai 10.300 ton. Kapal ini memiliki draft 6 meter yang dapat melaju selama 30 hari dengan jarak 9.360 mile laut. Kecepatan maksimal 16 knot. Kapal ini ‘dipersenjatai’ dengan mesin berkapasitas 2 x 2.920 Kw.
Kapal perang SSV mampu mengangkut dua helikopter, kemudian kapal landing craft utility (LCU), landing craft vehicle personnel (LCVP). Kapal itu juga mampu mengangkut tank, hingga truk militer.
Ekspor kapal perang ini merupakan yang pertama dilakukan PT PAL Indonesia (Persero). Meskipun hampir semua equipment (peralatan termasuk mesin) didatangkan dari Korea dan Jerman. Namun optimisme untuk lebih mandiri tetap ada, sebab beberapa material dipasok dari dalam negeri.
“Sebanyak mungkin bahan baku kami dari lokal. Terutama plat baja,” kata General Manager PT PAL Muhammad Firmansyah Arifin.
Firmansyah mengakui bahwa untuk alat tertentu, pihaknya masih perlu mendatangkan dari luar negeri. Saat ini, pengerjaan kapal perang SSV pesanan Filipina itu dikerjakan di enam titik di bengkel assembly PT PAL Surabaya.
Project Manager SSV Philippine, Turitan Indaryo, juga mengakui bahwa sebagian besar bahan kapal perang itu masih impor. Hanya plat baja yang dipasok lokal. Selebihnya, equipment sebagian besar didtangkan dari Korea dan Jerman.
Saat ini, dua kapal perang itu tengah dikerjakan. “Kapal SSV ini bukan yang pertama kami buat. Kapal SSV sekelas sudah berhasil kami buat. Termasuk kapal Banda Aceh. Jadi kami yakin akan sesuai jadwal,” tandas Firmansyah.
tribunnews



