08-07-unifil-peacekeepers

Hebat! 30 Puluhan Pasukan ‘Hantu’ Indonesia, Kalahkan 3000-an Gerilyawan Kongo

Cerita kehebatan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tak hanya berlaku di dalam negeri saja. Ketika bertugas di luar negeri, angkatan perang Indonesia juga mencatatkan prestasi memuaskan. Pasukan penjaga perdamaian misalnya.

Sejak Kontingen Garuda I bertugas di Mesir tahun 1957, pasukan baret biru di bawah PBB ini selalu mengharumkan nama bangsa. Seperti yang diterima 167 Prajurit TNI di Haiti. Mereka yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXII-B/MINUSTAH (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haiti), menerima penghargaan Medali PBB.

Selain itu, ada cerita menarik lainnya soal Pasukan Garuda. Ketika 30 Pasukan Garuda berhasil membekuk 3.000 gerilyawan di Kongo, dengan hanya berbekal akal bulus dan kecerdikan.

Ceritanya, Desember 1962 di Kongo sedang bergolak. Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Kolonel Kemal Idris berangkat sebagai pasukan perdamaian di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo).

Saat itu kelompok milisi di bawah pimpinan Moises Tsommbe ingin lepas dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu. Rakyat sipil pun segera menjadi korban pertikaian antar milisi dan tentara pemerintah.

Pasukan Garuda III memang dikenal karena keluwesannya bergaul. Banyak Singkong di Kongo, pasukan TNI pun mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Selama ini rakyat Kongo hanya mengolah singkong menjadi tepung yang rasanya tidak enak.

Suatu hari, terjadi serangan yang dilakukan 2.000 gerilyawan Kongo ke markas Pasukan Garuda. Saat itu markas hanya dipertahankan 300 tentara. Setelah baku tembak berjam-jam, gerilyawan dapat dipukul mundur. Untungnya tak ada korban di pihak Indonesia.

Serangan balasan pun segera dirancang untuk menangkap para pemberontak. Mereka melakukan penyerangan di malam hari dengan kapal yang digelapkan di atas danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah Albertville. Pasukan yang hanya berkekuatan 30 orang menyamar sebagai hantu.

Hampir sebagian besar warga Kongo, termasuk 3.000 pemberontak itu sangat percaya takhayul. Mereka takut pada hantu spritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang di waktu malam. Maka 30 anggota pasukan garuda itu berpakaian jubah putih dan segera menyerang.

Melihat sosok-sosok putih bergerak-gerak, semangat para gerilyawan hilang sama sekali dan segera menyerah.

Dalam operasi kilat itu, ribuan gerilyawan Kongo ditangkap. Senjata-senjata mereka yang ternyata lumayan canggih disita. Dalam peristiwa itu hanya seorang prajurit TNI yang cidera. Salah seorang gerilyawan yang panik saat digerebek, melemparkan ayam yang tengah dibakarnya pada tentara kita. Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan.

Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia mengaku bangga atas keberhasilan pasukan Indonesia menangkap 3.000 lainnya tanpa jatuh korban. Namun dia pun meminta ke depan cara-cara unik seperti itu tidak dilakukan. Karena risiko terlalu besar dan sangat membahayakan.

Sumber: jakartagreater.com

 

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *