Ternyata masih banyak yang belum beruntung di negeri ini. Khususnya bagi anak-anak usia sekolah. Idealnya, seorang anak menjalani masa pendidikannya dengan penuh konsentrasi, tanpa terbebani kondisi ekonomi. Sementara bagi yang tidak, akan berpeluh-peluh mencari rupiah, untuk bisa bersekolah.
Fenomena ini memang tak terbantahkan. Menjadi realita hidup yang harus dijalani. Mereka yang tidak beruntung, menghadapi dua tantangan. Yang pertama mengejar rupiah. Terutama terjadi di kota-kota besar, banyak siswa harus bekerja sebelum dan setelah jam sekolah. Serangan ancaman kemiskinan membuat mereka menjadi pendekar, terutama bagi perbaikan ekonomi keluarganya.
Mengabaikan rasa malu, mereka menjalani usaha yang bisa berbuah rupiah. Tidak peduli panas, hujan, atau kepungan kepulan debu. Motivasinya hanya satu, melanjutkan cita-cita dengan bersekolah.
Lantas, apa yang mereka dapat? Tidak banyak. Bahkan secara umum berupa upah minimum. Namun bagi mereka, setiap rupiah itu menjadi sangat berarti. Mereka tidak muluk-muluk, apalagi ambisi. Bisa bertahan untuk esok saja sudah cukup.
Sukses menuai rupiah, belum menjamin mereka sukses di sekolah. Inilah tantangan kedua. Siswa yang bekerja, sering menghadapi kendala ini : hasil belajar. Tak dapat dipungkiri, konsentrasi, daya tangkap, waktu belajar, dan stamina mereka, terkuras oleh pekerjaan. Ini sebuah dilema. Namun dengan keyakinan dan semangat untuk maju, rasa-rasanya dilema itu bisa terlewati.
Potret hidup kadang menimbulkan corak beragam. Kadang hitam, kadang putih, dan kadang berwarna. Siswa yang berjuang untuk sekolah, merupakan ragam dari potret itu. Yang perlu dicatat : kemiskinan tidak untuk disesali. Namun bagaimana kita, bisa bangkit dan menjauh dari kemiskinan itu. Disaat yang beruntung itu menyia-nyiakan rupiah, yang tidak beruntung malah mengejar rupiah, untuk bisa bersekolah. (sap)



