Pembangkit Listrik Tenaga Air milik Indonesia ini diklaim sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara. Letaknya berada di Desa Cadas Sari, Kecamatan Tegal Waru, Purwakarta, Jawa Barat. Berada dalam perut bumi, PLTA ini memiliki kapasitas terpasang hingga 1.008 megawatt (MW).
Pembangkit yang dikelola oleh PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkitan Cirata ini memiliki delapan unit generator dengan masing-masing kapasitas 126 MW.
“Pembangkit ini memanfaatkan tenaga air dari aliran sungai Citarum. yang dikenal subur, bergunung-gunung dan dianugerahi curah hujan yang tinggi,” kata Supervisor Senior Manajemen Mutu Risiko dan Kepatuhan PJB Unit Pembangkitan Cirata, Iwan Ridwan, seperti dilansir republikacoid.
Menurut dia, sungai Citarum yang tak pernah kering sepanjang tahun menjadi alasan dibangunnya waduk Cirata seluas 62 kilometer. Waduk itu memiliki elevasi muka air banjir 223 meter, elevasi muka air normal 220 meter, dan elevasi muka air rendah 205 meter. “Volume air waduk 2.165 juta meter dan isi efektif waduk 796 juta meter,” sambungnya.
Ia menambahkan, pembangunan PLTA ini dibiayai oleh APBN, Non APBN, dana PLN serta mendapat bantuan dari pinjaman luar negeri. Bendungan utama PLTA Cirata diresmikan oleh oleh Presiden Soeharto pada 6 Mei 1986.
Uniknya, pembangkit listrik ini berada di kedalaman 200 meter dari permukaan tanah. Pembangkit ini dibangun jauh berada di dalam perut bumi yang dilubangi. Hal ini membuat fasilitas pembangkit hanya bisa diakses lewat terowongan dengan panjang sekitar 1 kilometer.
Hanya ada 8 orang karyawan yang mengoprasikan 8 turbin yang masing-masing menghasilkan daya 126 MW tersebut. Di kedalaman 200 meter, ada 3 lantai yang masing-masing memiliki panjang 800 meter, dan lebar sekitar 20 meter.
Lantai pertama merupakan tempat generator. Sementara lantai kedua merupakan tempat kendali dan pengaturan air, serta lantai terbawah merupakan tempat turbin dan pipa-pipa yang mengalirkan air dari Waduk Cirata guna memutar turbin.
Seandainya 8 turbin beroprasi secara penuh pun, PLTA terbesar ini hanya bisa menyuplai sekitar 4% dari kebutuhan listik di Jawa-Bali.
“Makanya kita hanya sebagai pembangkit back up saat pembangkit lain ada masalah. Kita serap lah istilahnya agar di Jawa ini tak mati lampu. Kita hanya 4% dari beban puncak Pulau Jawa yang mencapai 23.000 MW. Kita hanya 1.008 MW, kecil sekali,” terangnya.
Menurut Iwan, konstruksi PLTA Cirata dibangun oleh Jepang dan memiliki umur konstruksi hingga 250 tahun. Sementara fasilitas pembangkit, khususnya turbin dibuat oleh Austria.
Sumber; detikcom, republikacoid











