Category: Inovasi

mahasiswa-ugm-penemu-krim-lukaBerawal dari sebuah keingintahuan pada puluhan liter limbah darah sapi, lima mahasiswa kedokteran hewan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini menggagas inovasi di bidang pengobatan.

Pasca kunjungan ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH), kelima mahasiswa, Rahmad Dwi Ardhiansyah, Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuriy Nuha Naufal, Muhamad Atabika Farma Nanda, dan Aprilia Maharani memiliki ide untuk menyulap puluhan liter darah sapi menjadi barang yang bermanfaat.

Dalam satu RPH, selama satu tahun total jumlah darah yang dihasilkan mencapai 88.088 liter darah yang mencemari air. Ternyata, mereka menemukan di dalam darah sapi mengandung sesuatu yang dapat menyembuhkan luka bakar.

“Kami mulai melakukan penelitian pada tikus,” kata ketua tim Rahmad Dwi Ardhiyansah saat ditemui Republika bersama keempat temannya di Laboratorium di Fakultas Kedokteran Hewan, UGM, Rabu (17/9) malam.

Darah tersebut kemudian diproses dan dicampur dengan krim sebagai bahan dasar. Bentuk krim dipilih sebagai bahan campuran dasar karena memiliki daya lekat yang lebih kuat dan tidak menimbulkan bau. Krim juga menurut mereka juga dianggapnya aman karena menimbulkan efek dingin.

Setelah darah sapi dan krim selesai dicampurkan, mereka kemudian mengoleskannya kepada tikus yang sudah dilukai. Hasilnya,proses penyembuhan lebih cepat dibandingkan dengan perlakuan penyebuhan lainnya.

“Jadi luka itu rapi tanpa ditumbuhi apapun,” ujarnya.

Rambut pada luka tikus tersebut membutuhkan waktu 27 hari untuk kembali tumbuh secara normal. Selain itu, mereka juga mengamati bekas luka yang terdapat pada tikus tersebut. Luka yang terdapat pada tikus tersebut tertutup dengan rapat dan tanpa bekas.

Tim ini menganggap penemuannya dapat dikembangkan lebih jauh.Misalnya, saat ini mereka sedang dalam proses pengembangan hasil penemuannya yaitu dampak krim tersebut apabila digunakan oleh manusia.

Meskipun menurut mereka pada dasarnya penyembuhan luka antara hewan dan manusia memiliki kesamaan.
Krim ini juga bisa dimanfaatkan untuk penyembuhan luka gores. Selain itu, luka bekas bedah serta luka kulit lainnya juga bisa memanfaatkan krim tersebut.(ROL)

Read Full Article

Tabung BBG tekanan rendahGas sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Penyimpanan gas kadang bisa menjadi masalah, namun Universitas Gadjah Mada (UGM) miliki pemecahannya.

Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik (FT) UGM Yogyakarta Ir. Imam Prasetyo berhasil mengembangkan teknologi penyimpanan gas sistemcartridge atau tukar pasang dengan adsorpsi gas lewat karbon berpori.

Riset teknologi tepat dari kampus biru itu, diharapkan mampu menjadi solusi untuk menjawab tantangan penerapan kebijakan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) di Indonesia di masa mendatang. Pasalnya, penerapan konversi BBG pada kendaraan saat ini mengalami hambatan. Salah satu kekhawatiran masyarakat adalah resiko apabila terjadi ledakan dan mahal biaya kompresi BBG.

Seperti diketahui, BBG dalam tabung penyimpanan konvensional memiliki tekanan hingga 200 bar. Tekanan gas yang begitu besar tersebut selain memberatkan kendaraan, beresiko sewaktu-waktu meledak apabila kualitas tabung kurang bagus.

“Kondisi lalu lintas di Indonesia dengan membawa tangki bertekanan 200 bar sangat beresiko. Disamping itu, tangkinya menjadi berat karena bahannya lebih tebal,” ujar Imam.

Imam berhasil mengembangkan inovasi penyimpanan tabung BBG dengan sistem karbon berpori. Dia mengklaim, selain harganya yang lebih murah, aman, dan tidak perlu menggunakan bahan tabung yang lebih tebal bahkan diameter tabung relatif lebih kecil. Kerena lebih kecil, penempatannya sangat fleksibel untuk ditempatkan pada kendaraan.

“Tangkinya bisa dari bahan stainless steel, intinya dengan sistem ini, tangki BBG tekanannya lebih rendah, bahan lebih tipis, lebih murah, dari sisi keamanan jauh lebih baik. Kemudian, biaya kompresi juga lebih rendah,” ucap dosen berusia 42 tahun lalu itu.

Selain itu, teknologi Adsorbed Natural Gas (ANG) yang dikembangkan Imam ini, salah satu keunggulannnya adalah kemampuan mengurangi tekanan gas pada tangki BBG hingga ratusan bar. Menurutnya, gas pada tangki BBG yang dibuatnya terikat oleh karbon berpori yang dimasukkan ke dalam dasar tabung.

“Bahan karbon berpori tersebut terbuat dari polimer yang dipirolisis atau pemanasan tanpa udara. Polimer yang berukuran nanometer ini, bisa menyesuaikan ukuran gas yang akan disimpan dengan cara mengatur komposisi polimer,” ungkapnya.

Imam menambahkan, jaringan pori berbahan polimer ini berukuran nanometer, sehingga bisa menyerap dan mengakumulasikan molekul gas di dalamnya. Penelitian yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun ini, menurutnya awalnya mengalami kendala karena sulitnya membuat polimer dan karbon yang sesuai dibutuhkan. Namun, meski karbon dari alam tersedia cukup banyak, tapi akhirnya dia memilih karbon dari bahan polimer.

“Hanya saja jika dibuat dari polimer, saya bisa mendesain ukuran porinya dan banyaknya porinya. Apabila menggunakan bahan alami, karakteristiknya tidak bisa diubah,” tuturnya. (okz)

Read Full Article

CYMERA_20140908_204310Ketika banyak orang tak berdaya karena penyakit, namun tidak dengan Herri Trisna Frianto. Dosen Politeknik Negeri Medan itu justru bangkit dari penyakit, dengan karyanya yang fenomenal.

Tahun 2008 tepatnya. Saat itu, Herri divonis dokter mengalami gangguan jantung. Gaya hidup dan beban psikis hebat, mengakibatkan fungsi jantungnya menurun. Alhasil, ia nyaris menjalani operasi pemasangan cincin untuk mengembalikan fungsi jantungnya itu. Namun urung dilaksanakan, karena menjalani terapi pembersihan lemak terlebih dahulu.

Rupanya, penyakit itu memberinya inspirasi. Herri yang ketika itu sedang kuliah S2 di Institut Teknologi Surabaya (ITS), sadar betul, betapa mahal biaya bagi penderita kelainan jantung. Sehingga tak menjangkau masyarakat ekonomi lemah.

Ia lantas berfikir, membuat alat medik sederhana bagi penderita jantung. Alat ini nantinya, mampu menggantikan fungsi alat medik lain sejenis, yang lebih mahal. Sehingga biaya pemeriksaan, lebih terjangkau.

Bersama dosennya di ITS, Rachmat Setyawan ST MT, Herri mulai melakukan riset. Tak hanya harus menguasai bidangnya, Herri juga harus paham dunia medis. Terutama yang berhubungan dengan penyakit jantung.

“Saya harus membaca beberapa literatur, untuk mendalami fungsi jantung. Dari teori itu baru bisa kami rancang, spesifikasi alat ini,” ucap dosen teknik elektro dan komputer Politeknik Negeri Medan ini.

Kepada kru Trimedia Pos, Herri menjelaskan secara detail skema kerja alat itu. “Selain denyut jantung, alat ini juga berfungsi mendeteksi saraf otak, dan otot bisep.”

CIMG4185“Melalui elektroda, gelombang denyut dari tubuh akan diubah menjadi sinyal. Selanjutnya sinyal itu ditampilkan pada monitor. Nah, pada layar akan terbaca grafik fungsi organ tubuh itu.”

“Dokter yang membaca sinyal itu akan menentukan, kelainan apa yang diderita pasien. Misalnya penyempitan atau pembengkakan jantung, untuk kemudian diambil tindakan medis,” terang ayah 4 orang anak ini.

Dengan alatnya ini, Herri mengklaim, bahwa biaya pengobatan menjadi lebih murah. “Dengan harga jual yang berkisar 7,5 juta, biaya pengobatan mampu ditekan seminimal mungkin. Bandingkan dengan alat impor sejenis yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah,” ucap Herri.

Pada tahap produksinya Herri mengaku banyak mendapat kesulitan. “Mayoritas komponennya itu tak ada di Medan. Jadi kami harus beli dari Surabaya,” ucap pria kelahiran 7 April 1971 ini.

“Kesulitan berikutnya tidak boleh salah pasang. Kalau salah, harus ngulang dari awal. Sejauh ini sudah 4 kali salah,” ucap Herri yang hobi berkebun ini.

Herri berharap, alat biomedik karya bersama dengan Racmat Setyawan ini, mendapat kemudahan dalam proses legalisasinya. Ini untuk kepentingan masyarakat luas. “Kami berharap, pihak terkait memudahkan proses perizinan, hingga alat ini bisa dipasarkan. Bersama, mari kita dukung kreatifitas anak bangsa,” tutup suami Reniwati Lubis MPd ini. (sap)

Read Full Article

doormatics ITSMahasiswa ITS Surabaya, Rizky Nafiar Rafiandi, dan rekan-rekannya menciptakan keset serbaguna yang berfungsi sebagai penghisap debu, sehingga kotoran yang ada tidak lengket di permukaan, melainkan langsung terhisap.

“Keset penghisap debu yang kami namai Doormatics itu berawal dari pengalaman pribadi ketika saya membersihkan lantai, tiba-tiba adik saya datang dan mengotori kembali lantai tersebut,” katanya di kampus setempat, Selasa.

Saat itu, adiknya sudah membersihkan kaki di keset, namun karena keset tersebut juga berdebu, maka lantai kembali kotor. Karena itu dirinya ingin membuat keset yang secara otomatis menyerap kotoran. “Untuk mewujudkan alat itu, saya mengajak teman-teman membuatnya bersama-sama, lalu kami pun mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti),” katanya.

Akhirnya, tim pun mendapatkan dana sebesar Rp7,5 juta dari Ditjen Dikti untuk mewujudkan “Doormatics”. “Inovasi itu dapat menekan pengeluaran biaya gaji karyawan dalam suatu perusahaan, karena mengurangi jumlah petugas cleaning service,” katanya.

Mahasiswa jurusan Teknik Elektro ITS itu mengungkapkan proses pembuatan keset serbaguna tersebut menggandeng salah satu bengkel di daerah Semolowaru, Surabaya, karena ada beberapa kendala terkait pembuatan keset serbaguna ini. “Salah satu kendalanya adalah hambatan dalam mengoptimalkan kinerja keset ini. Saat pembuatannya, kami mengalami kesulitan dalam meningkatkan daya hisap debu pada keset. Kami juga kesusahan dalam membuat konstruksi mekaniknya,” katanya.

Dengan bantuan bengkel itulah, Rizky dan timmnya akhirnya berhasil menciptakan Doormatics yang membutuhkan daya listrik sekitar 380 watt. “Kamu akhirnya juga lolos mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-27 di Semarang,” katanya. (antaranews)

Read Full Article

knalpotMahasiswa Program Kekhususan Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya) Chandra Sudono Halim menciptakan alat untuk mengubah gas buang dari knalpot sepeda motor menjadi energi yang bisa digunakan untuk ‘mencas’handphone (HP).

“Awalnya, wajah saya sering diterpa gas buang dari sepeda motor orang di depan saya yang knalpot-nya ditinggikan, lalu saya berpikir bahwa gas buang sepeda motor bisa dijadikan energi alternatif,” kata mahasiswa kelahiran Tarakan, Kalimantan Timur pada 5 Januari 1994 itu di kampus setempat, Rabu (3/9).

Bahkan, alat ciptaannya yang dinamai “Electric Emission Mobile Charger (E2MC)” itu meraih medali emas untuk kategori inovasi dalam “International Invention Inovation and Design” (3ID) di Universiti Teknologi Mara (UiTM) di Segamat, Johor, Malaysia pada 20 Agustus 2014.

“Ide dari pengalaman pribadi itu akhirnya saya wujudkan dalam Mata Kuliah Desain Produk I dan II. Gas sisa pembakaran kendaraan bermotor yang menyimpan potensi tekanan angin itu bisa menghasilkan energi listrik dengan bantuan komponen tertentu,” kata anak bungsu dari enam bersaudara itu.

Dalam praktiknya, tekanan angin dari gas buang sepeda motor itu diarahkan pada baling-baling mirip kipas angin yang dipasang pada badan knalpot dengan kerangka sebagai penyangga, lalu perputaran baling-baling yang mirip generator itu diubah menjadi energi listrik oleh alat stabilisator.

“Baling-baling plastik itu saya ambil dari baling-baling CPU komputer yang sudah tak terpakai, kemudian baling-baling E2MC yang berputar itu menghasilkan arus listrik yang terhubung dengan stabilisator yang saya ciptakan dari komponen tertentu untuk menyimpan energi listrik yang dihasilnya,” katanya.

Selanjutnya, energi yang dihasilkan itu langsung dihubungkan dengan “power bank” yang bisa dipakai untuk “charge” HP. “Alat stabilisator dan ‘power bank’ itu saya masukkan dalam jok motor, sehingga energi listrik bisa diproduksi sambil mengemudikan kendaraan,” katanya.

Menurut dia, tegangan listrik yang dihasilkan itu bisa mencapai 5 volt bila “spedometer” pada sepeda motor sudah menunjukkan kecepatan 20 kilometer/jam.

“Kalau kita mengendarai motor selama satu jam, maka energi listrik yang masuk dalam power bank mencapai 30-40 persen. Itu mungkin perjalanan ke luar kota, tapi perjalanan di dalam kota dalam beberapa kali keliling juga bisa, jadi mungkin power bank akan terisi penuh dalam beberapa hari,” katanya.

Tentang rencana komersialisasi alat ciptaannya itu, ia mengaku dirinya akan menyempurnakan alat ciptaannya sebagai tugas akhir (TA) sambil mengurus paten. Chandra melakukan penelitian alat itu selama setahun dan lima bulan untuk membuat prototipe.

“Mungkin 1-2 tahun ke depan, alat E2MC bisa dipasarkan. Harganya mungkin hanya Rp 180 ribu dan harga itu sudah termasuk stabilisator beserta power bank-nya,” katanya, didampingi dosen pembimbing, Sunardi Tjandra ST MT.(republika.co.id)

Read Full Article

IPBTeknologi gelombang suara dengan multibeam echosounder sangat baik digunakan untuk mendeteksi objek bawah air dan topografi dasar laut dalam penentuan kaki lereng kontinen.

Prinsip kerja dari teknologi ini adalah pola pancaran gelombang suara melebar dan melintang terhadap badan kapal. Setiap beam akan mendapatkan satu titik kedalaman. Jika titik-titik kedalaman tersebut dihubungkan, maka akan membentuk profil topografi dasar laut.

Adalah La Elson, Mahasiswa Program Studi Teknologi Kelautan Program Pascasarjana IPB, di bawah bimbingan Henry M. Manik, Ph.D (DosenProgramS1/S2 Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK IPB) dan Dr. Udrekh (Peneliti Geofisika dan Geologi Laut BPPT) yang mencoba mendeteksi posisi kaki lereng kontinen di perairan utara Papua khususnya pada bagian Eauripikrise yang berhubungan dengan penentuan batas landas kontinen Indonesia lebih dari 200 NauticalMile (NM), sebagai batas wilayah tiga negara (Indonesia, Papua Nugini dan Micronesia).

La Elson memanfaatkan data batimetri hasil survei BPPT dan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC) tahun 1998-2012 di perairan utara Papua. Berdasarkan data tersebut, diperoleh informasi bahwa keberadaan kaki lereng kontinen terletak pada kedalaman 3.506-4.298 m dengan jarak 116-347 km dari puncak Eauripikrise.

Posisi kaki lereng kontinen tersebut masing-masing terbagi dalam tiga lokasi di bagian barat dan timur dari puncak Eauripikrise perairan utara Papua. Menurut Henry M. Manik, Ph.D, temuan penting dari penelitian ini berdasarkan ketentuan the hedberg line pada salah satu titik kaki lereng di Eauripikrise yang mendekati wilayah landas kontinen Indonesia.

Disamping itu, juga diperoleh data bahwa luas wilayah tambahan landas kontinen Indonesia lebih dari 200 NM di perairan utara Papua adalah 61.547 km2. Selanjutnya Pakar Akustik Kelautan IPB ini menyatakan, “Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi bangsa Indonesia terutama dalam penentuan batas wilayah NKRI.” (republika)

Read Full Article

Bendungan-KatulampaAgusman Riyadi, mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya menciptakan sistem monitoring buka tutup pintu air bendungan secara otomatis. Alat ini mampu bekerja secara otomatis hanya berdasarkan perhitungan debit air pada bendungan, kata Agusman, di Bandarlampung, Jumat.

Mahasiswa Jurusan Sistem Komputer ini, untuk menjalankan alat tersebut memanfaatkan sensor ultrasonic Ping. Alat ini dapat mendeteksi ketinggian air dan mengendalikan secara otomatis buka tutup pintu air bendungan sesuai dengan ketinggian air. Hal ini berbeda dengan kondisi pintu air bendungan pada umumnya yang masih dilakukan secara manual.

“Kebanyakan sistem monitoring bendungan yang ada masih dilakukan dengan cara manual, sehingga dibutuhkan petugas yang rutin datang untuk mengontrol ketinggian air bendungan. Padahal ini berisiko ketika petugas lalai menjalankan tugasnya, maka tuas pembuka dan penutup pintu tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ini yang bisa menyebabkan air meluap dan banjir,” katanya pula.

Menurut bungsu dari sembilan bersaudara ini, beberapa perangkat yang digunakan pada alat ini adalah mikrokontroler atmega8 yang digunakan sebagai mesin penggerak otomatis, sedangkan sensor ultrasonic berfungsi untuk mendeteksi ketinggian air, motor DC untuk penggerak pintu air pada bendungan, dan LCD 2×16 karakter untuk menampilkan kadar ketinggian air.

Agusman menjelaskan, alat ini bekerja ketika sensor ultrasonic PING mendeteksi ketinggian air yang ditampilkan pada LCD, pada ketinggian air tertentu maka motor DC akan bergerak secara otomatis, sehingga pintu buka tutup air akan berputar dengan kisaran 60-90 derajat sesuai dengan ketinggian air.

“Mengingat alat ini masih berupa prototype, kapasitas air paling tinggi saya buat 50 cm. Pintu air akan bergerak 60 derajat jika ketinggian air di atas 30 cm. Semakin tinggi ketinggian air, maka semakin lebar pintu air bendungan terbuka, hingga 90 derajat,” katanya, seraya mengaku mendapatkan banyak arahan dari Dodi Yudo Setiawan SI MTI selaku dosen pembimbing.

Dia berharap, alat ini dapat membantu petugas penjaga bendungan dalam melakukan pemantauan ketinggian air, membuka dan menutup pintu air.

“Dengan ini pemanfaatan air bagi warga juga bisa lebih maksimal, menghindari terjadi luapan air yang dapat menyebabkan bencana banjir,” katanya lagi.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Riset IBI Darmajaya, Envermi Vem MSc mewakili Rektor Andi Desfiandi SE MA, menuturkan bahwa penelitian menjadi satu bagian penting dalam dunia pendidikan dan menjadi salah satu implementasi dalam menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi.

“Tak hanya dosen, mahasiswa IBI Darmajaya juga dituntut untuk aktif dan kreatif melakukan penelitian, karena melalui penelitian mudah-mudahan mahasiswa tergerak untuk memberikan sumbangsih dalam hal pemikiran, ide maupun karya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya lagi.(republika)

Read Full Article

logo ipb 2Diam-diam hasil penelitian yang dilakukan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk skala nasional dinilai paling inovatif. Menurut Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerja sama IPB, Prof Dr Ir Anas Miftah Fauzi, M Eng hal tersebut terungkap dari hasil kajian yang dilakukan Kementerian Riset dan Teknologi dan Bussiness Inovation Center IPB sejak 2008.

“Dengan demikian, selama tujuh tahun berturut-turut IPB telah berkontribusi menghasilkan hampir empat puluh persen inovasi paling prospektif di Indonesia,” ujarnya pada pembukaan South East Asia - Germany Alumni Network (SEAG) International Workshop di Bogor baru-baru ini.

Workshop SEAG digelar pada Rabu-Jumat (13-15/8). Kegiatan tersebut dilakukan oleh Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA) Institut Pertanian Bogor (IPB), didukung Deutscher Akademischer Austausch Dienst German Academic Exchange Service (DAAD). Kegiatan bertajuk “Tropical Bio-resources for Sustaiable Development: The Role of Innovation to Enhance Germany Alumni in Scientific and Professional Capacities”. International Workshop ini dibuka Dr Irene Jansen, yang merupakan Direktur dari DAAD Jakarta.

“Kegiatan ini diadakan setiap tahun untuk berbagi keilmuan terkini dan inovasi para alumni Jerman untuk pembangunan berkelanjutan. Tak ketinggalan, tentunya juga untuk meningkatkan kapasitas ilmiah dan profesional para alumni Jerman dalam melakukan pengajaran, penelitian dan sosialisasi,” kata Direktur DPKHA, Dr Ir Syarifah Iis Aisyah, MSc Agr dalam siaran persnya kepada ROL, Jumat (15/8).(republika)

Read Full Article

penyiram ladang sayur UNYIndonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar masyarakatnya adalah petani. Selama ini sektor pertanian menunjukkan daya tahan di tengah krisis ekonomi. Sektor pertanian yang mencakup pertanian, kehutanan, peternakan, dan perikanan juga turut berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Lahan pertanian yang cukup luas di Indonesia khususnya di pulau Jawa membutuhkan pengairan yang intensif untuk meningkatkan produk pertanian. Padahal akan sangat melelahkan untuk menyirami tanaman pada lahan yang cukup luas tersebut.

Oleh karena itu, sekelompok mahasiswa UNY membuat penyiram ladang sayur otomatis berbasis kemandirian energi yang dilaksanakan di Kelompok Pertanian Sedyo Rukun, Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul yang merupakan wadah persatuan dan kebersamaan dalam tercapainya masyarakat petani yang modern dan sejahtera. Di desa ini jumlah keluarga yang memiliki tanah pertanian sejumlah 385 keluarga.

Fariz Budi Widada dan Anang Prasetyo dari Prodi Pendidikan Teknik Elektronika FT UNY, Siti Efiyati dari Prodi Biologi FMIPA serta Indriyani dari Pendidikan Akuntansi FE mengaplikasikan alat penyiram ladang sayur otomatis berbasis kemandirian energi pada kelompok pertanian Sedyo Rukun, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas produk hasil pertanian.

Menurut Fariz Budi Widada di Karangrejek terdapat tiga kondisi masa pertanian yaitu masa pertanian padi 4 bulan, masa pertanian palawija 3 bulan dan masa pertanian sayur 5 bulan. Masa pertanian sayur adalah masa yang paling panjang karena pada masa ini kondisi daerah sangat mendukung untuk menanam berbagai sayuran. Namun kenyataan yang terjadi adalah teknologi yang digunakan untuk menyiram ladang sayuran tersebut masih manual sehingga sangat menyita waktu dan tidak efektif dalam pendistribusian air sehingga hasil produksi kurang maksimal.

“Untuk itu perlu adanya inovasi teknologi yang dapat meningkatkan hasil produksi, efisiensi waktu dan berbasis kemandirian energi,” katanya. Anang Prasetyo menambahkan bahwa alat ini terdiri atas beberapa komponen yaitu pompa air, inverter, solar cell, accu, mikrokontroler ATMega8, Modul SHT11 dan LCD. “Mikrokontroler ATMega8 adalah sebuah chip yang berfungsi sebagai pengontrol rangkaian elektronik dan dapat menyimpan program didalamnya,” kata Anang. “Sedangkan Modul SHT11 digunakan sebagai alat pengindra suhu dan kelembaban dalam aplikasi pengendali suhu dan kelembaban.”

Alat ini dirancang untuk menyiram tanaman pada dua sesi, yaitu pukul 08.00-10.00 dan 15.00-17.00. Cara kerjanya adalah modul SHT11 membaca sensor pada waktu-waktu tersebut, dan apabila terdeteksi kering maka modul akan memerintahkan pompa air untuk menyiram tanaman di ladang. Setelah ladang cukup basah atau hingga limit waktu yang ditentukan, pompa air akan berhenti menyiram tanaman.

Menurut Indriyani, output yang diharapkan dari pelaksanaan program ini adalah tercapainya efisiensi waktu karena bekerja secara otomatis berdasarkan tingkat kekeringan tanah dalam melakukan penyiraman sayuran serta mengganti pompa air berbahan bakar bensin dengan solar cell. Inovasi ini berhasil meraih dana dari Dikti karena lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) UNY. (uny.ac.id)

Read Full Article

lamtoroDua mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta Imas Widowati dan Athika Wirastiti membuat dan mengembangkan tempe dari bahan biji lamtoro sebagai pengganti kedelai.

“Biji lamtoro mengandung protein 40 persen, lemak (6,13), bahan ekstrak tanpa nitrogen (24,53), serat kasar (8,79), dan mineral (9,32),” kata Imas Widowati di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, dengan memperhatikan unsur kimia yang terkandung dalam biji lamtoro itu jelas terlihat bahwa biji lamtoro dapat digunakan sebagai bahan pengganti kedelai untuk pembuatan tempe.

“Proses pembuatan tempe biji lamtoro cukup mudah dan sederhana. Proses pembuatannya mirip dengan proses pembuatan tempe kedelai,” katanya.

Athika Wirastiti mengatakan dalam proses pembuatan tempe biji lamtoro dipengaruhi beberapa faktor yakni proses pembuatan, pemberian ragi, dan suhu pemeraman tempe.

Pemberian ragi tempe akan mempengaruhi hasil fermentasi biji lamtoro menjadi tempe. Jika ragi yang diberikan terlalu banyak maka tempe akan membusuk, sebaliknya jika terlalu sedikit maka hifa jamur tempe tidak akan tumbuh.

Selain itu, pemberian ragi juga harus dalam keadaan biji lamtoro kering karena biji lamtoro dalam keadaan basah dapat memicu tumbuhnya bakteri kontaminan atau bakteri pembusuk yang menyebabkan proses fermentasi menjadi terganggu dan tidak bisa menjadi tempe.

Menurut dia, proses pembuatan tempe biji lamtoro diawali dengan proses hidrasi atau pengasaman yakni dengan merendam biji lamtoro semalam agar biji mengalami proses hidrasi.

Kadar air biji lamtoro akan naik sebesar kira-kira dua kali kadar air semula sehingga biji lamtoro akan lebih mudah ditembus miselia jamur waktu proses fermentasi.

Selain itu, proses perendaman juga memberi kesempatan pertumbuhan bakteri-bakteri asam laktat sehingga terjadi penurunan pH dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri kontaminan yang bersifat pembusuk.

Selanjutnya proses pemanasan atau perebusan biji setelah perendaman untuk membunuh bakteri-bakteri kontaminan, mengaktifkan senyawa tripsin inhibitor, dan membantu membebaskan senyawa-senyawa dalam biji yang diperlukan untuk pertumbuhan jamur.

Ia mengatakan pada tahap terakhir dilakukan proses fermentasi yakni dengan pemberian ragi tempe pada biji lamtoro yang diberikan dalam keadaan kering dan dingin.

Proses fermentasi memerlukan waktu kurang lebih tiga hari unutk hifa jamur bisa membentuk jalinan kapang yang kompak dan padat.

Menurut dia, tempe lamtoro memiliki rasa yang khas, berbeda dengan tempe kedelai, bijinya lebih kecil dan lebih halus dibandingkan kedelai.

“Tempe biji lamtoro sedikit terasa berlemak karena kulit bijinya,” katanya.(antaranews)

Read Full Article

mhsw unnes ubah plastik jadi bbmSampah plastik menjadi salah satu isu utama dalam fenomena pemanasan global. Sebab plastik adalah salah satu bahan kimia yang paling sulit diuraikan sehingga berpotensi terus terakumulasi.

Keadaan tersebut memberikan ide bagi tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk mengubah sampah plasik menjadi bahan bakar alternatif. Ketiga mahasiswa tersebut ialah Hendra Prasetyo, Rudhiyanto, dan Ilham Eka Fitriyanto.

Ketiganya berpendapat, perlu cara pengolahan limbah plastik secara lebih aman. Karena pemusnahan plastik dengan dibakar kurang efektif dan berisiko memunculkan polutan dari emisi gas buang CO2, CO, NOx, dan Sox.

Ketiganya melihat potensi minyak pada sampah plastik karena plastik dibuat dari bahan Polietilen. Dengan kandungan senyawa tersebut, plastik dapat diolah menjadi beberapa jenis bahan bakar. “Setiap satuan berat plastik dapat menghasilkan 70 persen minyak, 16 persen gas, enam persen karbon solid, dan delapan persen air,” kata Ketua Tim Hendra Prasetyo, seperti dikutip dari situs Unnes, Minggu (20/7/2014).

Berdasarkan riset awal yang dilakukan Hendra, satu kilogram plastik botol air mineral dapat menghasilkan 0,5 liter pada suhu 300 derajat celcius selama 30 menit. Sementara satu kilogram plastik kresek, jika diolah dapat menghasilkan 0,5 liter minyak pada suhu 200 derajat celsius selama 25 menit.

“Riset kami memang belum sampai pada proses penyulingan untuk mengetahui jenis minyak yang kami hasilkan, apakah bensin, minyak tanah, atau solar. Ini perlukan riset lanjutan yang lebih serius,” paparnya.

Read Full Article

apron UGMBekerja dengan bahan radioaktif atau berada di sekitarnya membuat pekerja di bagian tersebut rentan terkena radiasi. Sementara paparan radiasi memiliki efek samping yang berbahaya bagi tubuh.

Untuk itu, perlu alat pelindung yang wajib digunakan para pekerja guna mampu memproteksi tubuh dari paparan radiasi. Sayang, kebanyakan apron di pasaran dibuat kurang memperhatikan aspek kenyamanan dan kemudahaan bagi penggunanya.

Berawal dari kenyataan tersebut empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mulai mengembangkan apron dengan memakai bahan kulit sintesis dengan filler timbal yang ringan dan fleksibel. Mereka adalah Akhmad Aji Wijayanto, Faiz Asyifaa Mohtar, Sita Gandes Pinasti, Firliyani Rahmatia N, serta Anggraeni Ayu R.

“Apron yang biasa dipakai misalnya di unit radiologi rumah sakit dan instansi penelitian nuklir terbuat dari plat timbal berlapis kain sehingga berat dan kaku, tertekuk sedikit saja bengkok tidak bisa kembali ke bentuk awal. Hal ini tentunya menyulitkan pengguna dan tidak memberikan rasa nyaman,” ujar Akhmad Aji Wijayanto, seperti disitat dari laman UGM, Senin (21/7/2014).

Apron yang diberinama RADEN (rompi anti radiasi pengion) itu terdiri atas tiga lapisan. Lapisan atas atau luar berupa kulit sintetis. Kemudian lapisan tengah merupakan lapisan utama berisikan campuran bahan PVC (Polyvinile Chloride), DOP (Di -2-ethylexy Phthalate) dan serbuk timbal (PbO dan PbCl2). Berikutnya lapisan dasar atau dalam yang berupa kain sebagai penguat apron.

Akhmad menyebut, penggunaan berbagai bahan tersebut menjadikan apron lebih fleksibel dan ringan. Bahkan mampu menekan berat hingga 30 persen dibandingkan dengan apron pada umumnya. Sementara rata-rata apron yang digunakan di rumah sakit memiliki berat hingga lima kilogram karena pembuatan yang menggunakan bahan berlapis-lapis.

“Tak hanya itu, dari segi produksi juga lebih hemat. Kalau apron di pasaran biasanya dijual di atas Rp2,5 juta, sedangkan apron ini menghabiskan biaya produksi sekitar Rp 1,5 juta,” paparnya.

Sebelumnya Akhmad dan rekan-rekanya melakukan uji atenuasi gama terhadap berbagai macam variasi komposisi bahan untuk mengetahui kemampuan bahan dalam menyerap radiasi gama dengan sumber Cs-137. Komposisi terbaik dengan nilai koefisien atenuasi terbesar yang selanjutnya digunakan sebagai bahan utama.

“Apron ini mampu menahan paparan energi gama tingkat sedang hingga 662 ke-V,” jelas Akhmad.

Faiz Asyifaa Mohtar menyatakan, produk mereka juga melalui uji tarik dan mulur bahan. Hasilnya diketahui material apron dari kulit sintetis ini memiliki kekuatan tarik sebesar 500 N, melebihi standar SNI-1294 2009 yaitu sebesar 180 N.

“Kalau kemampuan mulurnya sampai 15 persen. Masih dalam batas standar kemampuan mulur bahan, yakni antara 13-20 persen. Jadi apron ini sifatnya lentur dan fleksibel sehingga nyaman dipakai,” kata Faiz.

Faiz berharap apron tersebut dapat mengakomodasi kebutuhan akan apron yang aman terhadap radiasi gama sedang. Memberikan perlindungan terhadap radiasi dan juga memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi para penggunanya.

“Semoga karya kami ini bisa memeberikan kontribusi positif bagi perkembangan sistem proteksi dan keselamatan radiasi di Indonesia,” tutupnya.(okezone.com)

Read Full Article

kepo buatan usuKepo adalah istilah gaul yang digunakan banyak orang bagi mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi bagi Tim Toba dari Universitas Sumatera Utara (USU), Kepo adalah merek dagang bagi bisnis mereka yang merupakan singkatan dari Keripik Pora.

Tim tersebut terdiri atas David P Sinurat, Togar Josua Manik, Winner Damanik, Susan Natassya, dan Meiliza Rohimmah. Keempat mahasiswa tersebut melihat potensi ikan khas Sumatera, yakni ikan pora-pora yang kaya akan omega 3.

“’Dasar pengambilan ide Keripik Pora, karena berdasarkan riset, kandungan nutrisi Omega 3 dan kalsium tinggi. Masyarakat di kampung saya, di Silahi Sabungan belum menyadari potensi dari ikan pora-pora itu,” tutur David, seperti dinukil dari laman USU, Sabtu (5/7/2014).

David menjelaskan, ikan pora-pora berasal dari Danau Singkarak, kemudian bibitnya dibawa ke Danau Toba untuk dibudidayakan di sana hingga akhirnya mampu berkembang biak dengan baik. Potensi tersebut yang kemudian dilihat David dan kawan-kawan dan mengubahnya menjadi sebuah peluang usaha.

“Jika kemudian dikembangkan, potensi ikan pora-pora ini akan memberikan manfaat besar kepada masyarakat. Terutama dalam bidang peningkatan ekonomi masyarakat yang pada gilirannya mampu memberi dampak luas hingga bisa memajukan dunia pendidikan di Silahi Sabungan,” paparnya.

Dia menjelaskan, penelitian untuk usaha Kepo dilakukan selama sekira tiga bulan. Penelitian dimulai dengan riset awal di Silahi Sabungan. Lalu mereka berbagi tugas yang intinya menjalankan ide bisnis.

Susan menambahkan, pada riset itu mereka mendatangi SMA Negeri 1 Silahi Sabungan. Di sekolah itu mereka melakukan penelitian tentang minat siswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

“Ide penelitian ini memiliki dua tujuan. Pertama untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di Silahi Sabungan dan harapannya dengan meningkatnya pendapatan masyarakat maka dengan sendirinya mendorong kemajuan pendidikan di Silahi Sabungan,” kata Susan.

Ide bisnis tersebut ternyata menuai apresiasi positif dari pihak industri. Hal itu terbukti dari terpilihnya mereka sebagai finalis dalam Danone Young Social Entrepeneur 2014. Ke depan, empat sekawan itu ingin mengimplementasikan proyek sosial ini bekerjasama Studen Entrepeneur Centre (SEC) USU untuk kemudian membimbing tim Toba USU merealisasikan proyek tersebut. (okezone.com)

Read Full Article

quick disasterKabar gembira menghampiri Daniel Oscar Baskoro dan empat rekannya, Jumat pagi pekan lalu. Aplikasi buatan mereka, Quick Disaster, diumumkan sebagai satu dari sepuluh aplikasi bencana terbaik versi kompetisi aplikasi yang diadakan oleh Bank Dunia.

“Kami akan mempresentasikannya dalam forum global Understanding Risk di London,” kata Oscar, yang memimpin tim pengembang Quick Disaster, kepada Tempo, Jumat 30 Mei 2014. Sembilan aplikasi lain adalah Jakarta Flood Alert, Anytime!, Disaster Resilience, Ehon, Flood AR, iLigtas, Nigechizu, Save The Baby, dan We Are Ready.

Understanding Risk Forum adalah konferensi global di bidang penilaian risiko bencana. Forum yang diadakan tiap dua tahun ini diselenggarakan bersama oleh Departemen Ilmu, Teknologi, Rekayasa dan Kebijakan Publik University College London (UCL STEaPP) dengan Fasilitas Global Bank Dunia untuk Pengurangan dan Pemulihan Bencana (GFDRR).

Forum tahun ini dihelat di London, Inggris, pada 30 Juni sampai 4 Juli. Tema yang diangkat kali ini adalah “Actionable Information“. Peserta forum terdiri atas para ahli dan praktisi, dari perwakilan instansi pemerintah, organisasi multilateral, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, lembaga penelitian, akademikus, organisasi berbasis masyarakat, hingga masyarakat sipil.
quick disaster buatan mhs UGM
Oscar menggarap Quick Disaster bersama Zamahsyari, Bahrunur, dan Sabrina Anggraini yang sama-sama mengambil Program Studi Ilmu Komputer, serta Maulana Rizki dari Program Studi Geofisika. Semuanya dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. “Kami terinspirasi oleh tingginya angka korban bencana alam di Indonesia,” katanya ketika mengunjungi kantor Tempo, Rabu pekan lalu.

Quick Disaster adalah aplikasi panduan singkat tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Aplikasi yang dibenamkan di kacamata pintar Google Glass ini memuat apa yang harus dilakukan, ke mana harus menyelamatkan diri, dan beberapa petunjuk lain.

Ada sembilan macam bencana yang panduannya diisikan ke dalam Quick Disaster. Dari gempa bumi, banjir, gunung meletus, tsunami, angin topan, tornado, hujan abu vulkanis, longsor, hingga kebakaran. Hanya dalam 15 detik pengguna Google Glass dapat mengakses petunjuk penyelamatan guna terhindar dari malapetaka.(tempo.co)

Read Full Article

Agung-PambudiKesibukan Agung Pambudi pada akhir Mei 2014 lalu meningkat drastis. Selain harus menyiapkan ujian doktoralnya di Kyusu University, ia juga harus melayani permintaan wawancara dari sejumlah media Jepang. Permintaan wawancara mengalir setelah alumni Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Unnes ini meluncurkan aplikasi pemburu produk halal bernama HalalMinds.

Diberitakan Bloomberg Bussinesweek, HalalMinds telah menyita perhatian pemerhati teknologi di Jepang. Aplikasi ini diprediksi memiliki prospek bisnis yang baik karena mampu memecahkan persoalan serius yang banyak dialami Muslim di dunia. HalalMinds adalah aplikasi smartphone yang dapat mendeteksi produk halal.

Fitur utamanya adalah scanner barcode yang bisa digunakan saat belanja di supermarket. Pengguna tinggal memindai barcode produk, secara otomatis scan langsung melacak database dari sekitar 500.000item untuk menentukan apakah produk tersebut sarat bahan halal atau tidak.

Agung sebetulnya bukan dari jurusan teknologi informasi. Riset S3-nya bahkan tentang “Energi dan Analisis Exergy dari Pembangkit Listrik Panas Bumi”. Tapi berangkat dari kegelisahannya mengenai unsur sake dan daging babi yang ada di hampir semua produk di Jepang mendorongnya menciptakan aplikasi halal. HalalMinds kini tersedia untuk sistem operasi Android sejak 3 April dan iOS iPhone sejak 28 April.

Layanan ini akan membantu mahasiswa dan masyarakat muslim secara umum yang tinggal di Jepang—bahkan negara lain—untuk mencari produk halal sesuai dengan aturan Islam. Data yang dihimpun HalalMinds, kini tersebar 150.000 muslim di Jepang dan lebih dari 1 juta muslim menjadi turis di Negeri Sakura. Pengunjung muslim datang dari Malaysia, Indonesia, dan Timur Tengah.

Tak hanya produk halal, sistem buatan Agung ini pun menawarkan informasi restoran halal, kompas kiblat, dan ayat-ayat Al-Qur’an. Kendati baru tersedia dalam bahasa Inggris, hingga bulan lalu sudah lebih dari 1.100 yang mengunduh aplikasi tersebut sejak diluncurkan.

Kolaborasi Pengusaha Jepang

Proses riset HalalMinds berawal ketika Agung mengunjungi Startup Weekend, forum kongko para wirausahawan bidang teknologi informasi. Dalam forum muda-mudi itulah, Agung dikenalkan dengan Dai Oshiro yang merupakan Chief Executive Officer Whatz.jp, komunitas pendatang dan masyarakat lokal di Jepang.

Dai Oshiro juga satu almamater dengan Agung di Kyushu tapi dari Departemen Ekonomi. Pria sipit ini juga mengikuti ajang Startup Weekend, keduanya pun menjadi akrab. Agung kemudian menceritakan ide membuat aplikasi halal yang akhirnya dikembangkan bersama hingga saat ini. Dari pertemuan intens dan kesamaan visi itu, HalalMinds terbentuk melalui bendera Kyushu Lab.

“Saya yakin, upayanya membuat aplikasi ini menjadi langkah besar bagi masyarakat muslim,” kata Dai melalui e-mail.

Berdirinya HalalMinds tak pernah disangka karena begitu cepat terealisasi. Sejak lama Agung bercita-cita ingin mendirikan perusahaan rintisan (startup) internasional, tapi buta dari mana awalnya.

“Ayah ibu saya hanya seorang pendidik. Saya sendiri tidak ada relasi ke sana, yang ada hanyalah impian. Tapi pada tahun terakhir saat saya ikut Startup Weekend, dari sana saya banyak bertemu dengan teman-teman dari Jepang yang memiliki mimpi sama,” cerita Agung pada Bloomberg.

Ia kadang harus pintar-pintar mencuri waktu. Biasanya malam hari selesai dari lab, Agung mengembangkan HalalMinds. “Karena di tim ini saya-lah yang muslim, kadang tidak ada diskusi tentang ini dengan anggota lain. Mangkanya sebenarnya saya perlu teman lain yang bisa mewujudkan ide-ide saya.”

Agung mendapat dukungan dari Hironori Goto, warga Jepang yang pernah bekerja di bekerja di Panasonic Communication Co. Ltd. Goto memiliki pengalaman panjang di bidang TI karena lebih dari 20 tahun ia bertanggung jawab dalam pengembangan desain, rencana produk untuk perangkat keras, lunak, servis jaringan, dan proyek bisnis baru. Goto juga pernah bekerja sebagai Advanced Demonstration Project Leader di Fukuoka IST, Industry, Science & Technology Foundation.(unnes.ac.id)

Read Full Article